RISKS MANAGEMENT

EDDI ARNO, SE, MBA, MA[1]

ECONIS-ALGHANI

An Islamic Economic Supporting Institution

Web Site: WWW.econis-alghani.com

Tel. (021) 70889967, 0816-755-826

  1. Definisi Risiko

Terdapat banyak definisi mengenai risiko. Belum ada kesepakatan mengenai apa yang dimaksud dengan risiko. Beberapa definis risiko adalah :

  1. Risks adalah peluang terjadinya hasil yang buruk (bad outcome) [2]
  2. Risks is chance of loss
  3. Risks is possibility of loss
  4. Risks is uncertainty
  5. Risks is the dispersion of actual from expected results
  6. Risks is the probability of any outcome different from the one expected.
  7. Risks is loss of unexpected result[3]
  8. Risk can be defined as the volatility of unexpected outcomes[4]

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa risks (risiko) berkaitan dengan uncertainty (ketidakpastian). Namun terdapat perbedaan antara risiko dengan ketidakpastian. Risks mengacu kepada expected risks (risiko yang telah diperkirakan), sedangkan uncertainty mengacu kepada unexpected risks (risiko yang belum atau tidak diperkirakan). Keduanya memang sama-sama risiko, namun berbeda dalam hal sifat ‘bisa diperkirakan’ atau tidak, sehingga metode pengelolaannya akan berbeda.[5] Risiko adalah ketidakpastian yang bisa diperkirakan atau diukur. Risiko adalah ketidakpastian yang telah diketahui tingkat probalitas kejadiannya. Sebahagian menyebutkan bahwa risiko adalah ketidakpastian yang bisa dikuantitaskan besaran kerugiannya. Dengan demikian, ketidakpastian yang tidak bisa diperkirakan tidak termasuk risiko. Perbedaan antara risiko dengan ketidakpastian terletak pada ‘ada tidaknya informasi’ tentang ketidakpastian tersebut. Ketidakpastian yang tidak ada informasinya bukan disebut risiko.

  1. Beberapa Konsep Didalam Risks Management

Kesadaran risiko muncul secara cepat semenjak terjadinya ‘financial dissasters’ pada awal 1990-an. Ditemukannya metode ‘VAR (value at risk)’ untuk mengukur risiko telah membuat pertumbuhan manajemen risiko yang sangat cepat pada tahun-tahun terakhir ini. Perkembangan ini telah menumbuhkan paradigma baru bahwa, “perusahaan pada dasarnya melakukan ‘bisnis pengelolaan risiko’”. Untuk memahami perkembangan manajemen risiko modern, terdapat beberapa konsep penting yang perlu diketahui.

  1. Ekposure (exposure)

Eksposur adalah tingkat kemungkinan terburuk atau tingkat maksimum dari kerugian yang akan dialami jika suatu peristiwa atau transaksi terjadi. Contohnya, pemberian kredit yang terkonsentrasi pada UKM oleh bank ‘A’ akan meningkatkan jenis risiko tertentu, misalnya risiko ‘gagal bayar’. Hal ini dapat dikatakan bahwa bank ‘A’ memiliki ‘ekposure’ risiko ‘gagal bayar-UKM’ yang lebih tinggi dengan naiknya pemberian kredit kepada UKM. Eksposur dikaitkan dengan objek tertentu dan dapat diukur.

  1. Volatilitas (volatility)

Volatilitas adalah tingkat variabilitas hasil potensial. Volatilitas merupakan standard deviasi dari outcome. Semakin tinggi volatilitas, maka semakin besar tingkat risiko. Volatilitas juga dikaitkan dengan objek tertentu dan dapat diukur. Misalnya, volatilitas harga minyak, volatilitas saham atau volatilitas tenaga ahli komputer di perusahaan tertentu.

  1. Probabilitas (probability)

Probabilitas adalah ukuran mengenai seberapa besar kemungkinan terjadinya risk even (peristiwa risiko) tertentu. Semakin tinggi kemungkinan terjadinya risk event, maka dikatakan semakin tinggi probabilitasnya.

  1. Severitas (Severity)

Severitas adalah besarnya tingkat kerugian yang ‘benar-benar’ atau real yang akan dialami. Severitas adalah pasangan dari probabilitas. Severitas merupakan ukuran dari dampak atau outcome dari sebuah risk event.

  1. Peril

Peril is the cause of the loss atau sesuatu yang menyebabkan timbulnya kerugian.

  1. Hazard

Hazard adalah kondisi-kondisi yang bersumber dari karakter suatu objek yang dapat meningkatkan frekwensi dan atau magnitud dari kerugian (bad outcome). Contohnya, menyimpan drum bensin didalam rumah merupakan hazard.

  1. Moral Hazard

Moral hazard adalah kondisi yang bersumber dari sikap mental seseorang yang sifatnya ‘negatif’ dan ‘disengaja’ untuk menimbulkan potensi kerugian bagi pihak lain, namun menguntungkan dirinya. Contohnya, seseorang mengasuransikan pabriknya dan merancang kebakaran pabriknya untuk mendapatkan ganti rugi dari asuransi.

  1. Morale Hazard

Morale Hazard adalah sikap mental yang tidak memperhatikan risiko atau sikap ceroboh, sikap tidak hati-hati.

  1. Expected Risk

Expected risk adalah ketidakpastian yang bisa diperkirakan. Risiko inilah yang menjadi wilayah kajian manajemen risiko.

  1. Unexpected Risk

Unexpected risk adalah ketidakpastian yang belum bisa diperkirakan. Ketidakpastian ini bukan menjadi objek kajian manajemen risiko.

  1. Risk Event

Risk event ( kejadian risiko) adalah terjadinya sebuah peristiwa yang mengakibatkan timbulnya potensi kerugian (terjadinya bad outcome).

  1. Risk Loss

Risks loss (risiko kerugian) adalah kerugian yang timbul sebagai konsekwensi dari terjadinya Risk Event. Kerugian tersebut bisa finansial bisa juga non-finansial. Jadi urutannya adalah; Expected Risks à Risks Event à Risk Loss

  1. Upside Risk

Upside Risks adalah jenis risiko yang menguntungkan atau jenis Risiko dimana terjadinya Risks Event akan menghasilkan outcome yang sifatnya menguntungkan.

  1. Downside Risk

Downside Risk adalah jenis risiko yang merugikan.

  1. Pure Risk

Pure risk adalah kategori risiko yang menghasilkan outcome yang merugikan. Pure risk adalah risiko ‘dowside risk’. Pure risk adalah expected risks dimana risk event akan menghasilkan risks loss. Contohnya, risiko gempa bumi.

  1. Speculative Risks

Speculative Risks adalah kategori risiko yang menghasilkan outcome yang bisa merugikan atau yang menguntungkan. Contohnya, risiko jual beli saham

  1. Systemic Risks

Systemic risk adalah risiko , dalam konteks perbankan, dimana kegagalan sebuah bank akan menghasilkan kerugian atau kehancuran perekonomian nasional yang besar.

  1. Stand –Alone Risk

Stand-Alone Risk adalah risiko total dari sekumpulan asset atau invesment assets yang terdiri dari undiversifiable risk + diversifiable risk

  1. Systematic Risk

Systematic risk disebut juga market risk adalah risiko pasar disebabkan variabel-variabel diluar perusahaan (exogenous), sehingga tidak dapat dikendalikan perusahaan dan tidak dapat didiversifikasi (undiversifiable).

  1. Specific Risk (unsystematic risk)

Specific risk adalah risiko yang melekat internal pada sebuah perusahaan tertentu. Sifatnya dapat didiversifikasi (diversifiable risk) melalui strategi portofolio.

  1. Klasifikasi Risiko

Karena terdapat berbagai pengertian tentang risiko dan berbagai sudut pandang yang dapat digunakan untuk memahami risiko, maka terdapat berbagai jenis kategori risiko. Berikut ini adalah contoh-contoh klasifikasi risiko yang dikembangkan beberapa penulis.

Klasifikasi Risiko – Menurut Sifatnya

Risks :[6]

  1. Pure Risk
    1. Static Risk

i. Objective Risk

ii. Subjective Risk

    1. Dynamic Risk

i. Objective Risk

ii. Subjective Risk

  1. Speculative Risk
    1. Static Risk

i. Objective Risk

ii. Subjective Risk

    1. Dynamic Risk

i. Objective Risk

ii. Subjective Risk

Klasifikasi Risiko – Menurut ERM atau Total Corporate Risk Management

Sebuah contoh klasifikasi menurut sudut pandang korporat.

Risiko Korporat :[7]

  1. Risiko Finansial
    1. Risiko pasar

i. Risiko tingkat bunga

ii. Risiko Nilai tukar

iii. Risiko komoditas

iv. Risiko ekuitas

    1. Risiko Likwiditas
    2. Risiko Kredit
    3. Risiko Modal
  1. Risiko Operasional
    1. Risiko SDM
    2. Risiko Tehnologi
    3. Risiko Inovasi
    4. Risiko Sistem
    5. Risiko proses
  2. Risiko Strategis
    1. Risiko bisnis
    2. Risiko leverage operasi
    3. Risiko transaksi strategis
  3. Risiko Eksternalitas
    1. Risiko Lingkungan
    2. Risiko reputasi
    3. Risiko hukum

Klasifikasi Risiko – Menurut BSMR[8]

BSMR adalah badan sertifikasi manajemen risiko di Indonesia yang berafiliasi dengan GARP ( Global Association of Risk Professionals). Manajemen Risiko yang menjadi objek kajian BSMR dikhususkan kepada kategori risiko financial untuk lembaga perbankan konvensional, melalui apa yang dikenal dengan istilah Basel Accord I dan II.

Risiko Perbankan (conventional banking):

  1. Risiko Pasar (risiko akibat perubahan suku bunga, kurs valas, saham, komoditas)
    1. Risiko spesifik (specific risk)
    2. Risiko pasar umum (general market risk)

i. Risiko suku bunga

ii. Risiko posisi ekuitas

iii. Risiko nilai tukar

iv. Risiko posisi komoditas

    1. Risiko Treasury (ALM)

i. Risiko tingkat bunga dalam banking book

ii. Risiko likwiditas

iii. Risiko modal

  1. Risiko Kredit
    1. Souvereign risk
    2. Risiko kredit korporasi
    3. Risiko kredit ritel
    4. Risiko kredit ‘traded markets counterparty’
  2. Risiko Operasional
    1. Risiko proses Internal
    2. Risiko manusia
    3. Risiko sistem
    4. Risiko eksternal
    5. Risiko legal (risiko hukum dan regulasi)
  3. Risiko Lainnya
    1. Risko bisnis
    2. Risiko Strategis
    3. Risiko reputasi

Klasifikasi Risiko – Firmwide Risks versi Philippe Jorion[9]

Firmwide Risks :

  1. Bussiness Risks
    1. Business decisions

i. Strategic risk

ii. Product Risk

iii. Marketing risk

iv. Organization risk

    1. Business environment

i. Macro economic risks

ii. Competition risk

iii. Technology risk

  1. Non-Business Risks
    1. Financial Risks

i. Market risk

ii. Liquidity risk

iii. Credit risk

iv. Operational risk

    1. Other Risks

i. Reputational risk

ii. Regulatory risk

iii. Political risk

Klasifikasi Risiko – Islamic Financial Institution (IFI)[10]

Risk Profile of IFI :

  1. Financial Risk
    1. Credit risk
    2. Market risk

i. Mark-up risk

ii. Forex risk

iii. Commodity risk

    1. Equity Risk
  1. Business Risk
    1. Rate of return risk
    2. Solvency risk
  2. Treasury Risk
    1. ALM risk
    2. Hedging risk
  3. Governance Risk
    1. Operational risk
    2. Reputation risk
    3. Transparency risk
    4. Shariah risk
    5. Fiduciary risk

NOTE (penulis): Walaupun diatas dinyatakan profil risiko untuk sebuah IFI, klasifikasi diatas tampaknya lebih dikhususkan untuk manajemen risiko lembaga perbankan Islam.

  1. Pendekatan Didalam Manajemen Risiko

Manajemen risiko telah mengalami perubahan pada masa sekarang ini akibat dari meningkatnya volatilitas yang diakibatkan oleh :

1. Globalisasi dunia dan homogenisasi ekonomi, politik, sosial dan budaya.

2. Liberalisasi dunia

3. Tehnologi pemrosesan informasi yang semakin cepat

4. Tehnologi komunikasi yang semakin tinggi

Jika pada masa lalu, risiko lebih ditujukan kepada pengelolaan risiko yang sifatnya murni akan menghasilkan kerugian dan yang sifatnya physical loss, seperti kecelakaan dan gempa bumi. Manajemen Risiko sekarang lebih luas cakupan risikonya mencakup risiko murni dan risiko spekulatif. Secara lengkap, maka perbandingan didalam pengelolaan Risiko antara pendekatan konvensional dengan pendekatan Terintegrasi yang digunakan kini didalam manajemen risiko korporasi terintegrasi adalah.

Pendekatan Konvensional

  1. Fokus Risiko yang bersifat murni
  2. Risiko sebagai sumber masalah
  3. Risiko mengakibatkan biaya
  4. Risiko harus dihindari atau diminimalisasi
  5. Tehnik risiko terbaik adalah memindahkan risiko kepada pihak lain
  6. Risiko dikelola secara terkotak-kotak dan parsial
  7. Risiko ditempatkan pada level taktis operasional
  8. Hubungan Risiko dan Hasil selamanya dalam hubungan positip. [11]

Tingkat Hasil

Tingkat Risiko

Pendekatan Risiko Korporasi Terintegrasi

  1. Mencakup Risiko murni dan Risiko spekulatif
  2. Risiko sebagai sumber keunggulan (competitive advantage)
  3. Risiko sebagai modal
  4. Risiko dikelola melalui portiofolio bukan hanya dihindari
  5. Tehnik risiko telah berbagai macam
  6. Risiko korporat dikelola secara terpadu
  7. Risiko sebagai elemen yang strategis dan taktis operasional
  8. Hubungan risiko dan hasil tidak selamanya positip. Dengan manajemen risiko modern, perusahaan diarahkan agar berusaha pada zona optimum (zona 2)[12]

Tingkat hasil

Zona 1 zona 2 zona 3 tingkat risiko

  1. Konsep Risiko Menurut Ekonomi Islam

Dalam paradigma ekonomi Islam, maka risiko dipandang sebagai hal yang positip. Risiko usaha dikaitkan dengan konsep keadilan dimana setiap hasil keuntungan usaha harus dihasilkan dari keterlibatan didalam menghadapi risiko usaha. Hasil usaha yang tidak memiliki kaitan dengan keterlibatan menghadapi risiko usaha dianggap tidak mencerminkan keadilan.

Walaupun Ekonomi Islam memandang positip tentang risiko, namun ekonomi Islam atau aplikasi turunannya belum memiliki konsepsi risiko yang komprehensif. Konsepsi risiko yang ada didalam Islam hanya tentang “gharar’ dan ‘maisir’. Islam melarang kedua jenis ketidakpastian ini. Pelarangan ini menunjukkan bahwa Islam telah mengenal fenomena asymetric information karena pelarangan gharar dan maisir ini tampaknya memang dikaitkan dengan adanya fenomena ‘asymetric information’.

Gharar adalah kondisi pertukaran oleh seseorang yang menguasai informasi yang lebih lengkap dan lebih mengetahui akan adanya resiko merugikan dengan orang lain yang tidak tahu. Maisir adalah kondisi pertukaran dimana semua pihak yang akan terlibat didalam transaksi atau usaha sama sekali tidak bisa memperkirakan profil risiko usaha tersebut. Dari ini, penulis menyimpulkan bahwa Islam melarang transaksi atau usaha yang mengandung ‘unexpected risks’ (risiko yang tidak bisa diperkirakan).

Didalam gharar, seseorang yang baginya profil risiko usaha bersifat ‘expected risks’ berhadapan dengan orang lain yang lebih lemah karena tidak mengetahui risiko atau risiko usaha baginya bersifat ‘unexpected risks’. Dan pihak yang ‘expected risks’ mengetahui bahwa jika transaski dilakukan maka ada kepastian ‘loss’ yang akan diderita pihak yang lemah tersebut. Jika pihak yang ‘unexpected risks’ masih menghadapi potensi ‘loss’ atau ‘risks loss’ dan bukan suatu kepastian ‘loss’, maka transaksi exchange tersebut tidak termasuk gharar. Didalam maisir, pihak-pihak yang akan terlibat didalam transaski sama-sama tidak mengetahui profil risiko atau sama-sama berstatus pihak yang melihat risiko masih sebagai ‘unexpected risks’.

Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari ulasan diatas adalah :

  1. Khazanah Islam telah memberikan landasan prinsip didalam manajemen risiko yaitu ;
    1. Ruang lingkup risiko yang dianggap positip dan diperkenankan oleh Islam adalah ketidakpastian yang sifatnya ‘expected’ (bisa diperkirakan). Jadi, transaksi bisnis yang mengandung risiko ‘expected’ adalah diperkenankan.
    2. Jenis ketidakpastian yang sifatnya ‘unexpected’ adalah haram sehingga transaksi yang mengandung ‘unexpected risks’ adalah haram.
  2. Gharar dan Maisir : Larangan bersifat Temporer
    1. Karena ilmu pengetahuan, metodologi dan informasi adalah berkembang, sebuah transaksi yang pada satu saat adalah berstatus ‘gharar’ atau ‘maisir’, akan bisa menjadi ‘halal’ ketika komponen risiko yang melingkupi transaksi tersebut terkuak menjadi dapat diperkirakan.
    2. Jadi, status gharar dan maisir sebuah transaksi tidak bersifat permanen tapi temporer. Gharar dan maisir adalah fungsi dari pengetahuan dan informasi.
  3. Gharar dan Maisir: Larangan bersifat ‘spesifik’
    1. Mengingat kemampuan orang tidak sama, maka larangan gharar dan maisir tidak berlaku ‘all inclusive’ untuk semua orang. Gharar dan maisir diharamkan jika salah satu atau kedua pihak yang terlibat transaksi ‘tidak bisa memperkirakan risikonya’. Jika kedua pihak yang terlibat transaksi masing-masing dapat memperkirakan risikonya, maka transaksi tersebut menjadi halal bagi mereka.
    2. Dimensi keadilannya adalah ‘ bertransaksi dengan pihak yang berimbang, saling mengetahui risiko’ dan ‘tidak bertransaksi dengan pihak yang tidak tahu risikonya.’
    3. Islam dengan demikian bertujuan untuk terciptanya keseimbangan pemilikan informasi antar pihak yang bertransaksi atau ‘informasi pasar yang sempurna’

  1. Mengingat risiko ada dua jenis ‘upside risk’ dan ‘downside risk’, maka gharar dan maisir lebih ditujukan untuk risiko dalam makna ‘downside risk’ (risiko merugikan). Dengan kata lain, kajian gharar dan maisir yang ada selama ini tampaknya hanya ditujukan untuk risiko sebagai ‘pure risk’ (risiko yang merugikan)

  1. Speculative Transaction Controversion.

Didalam Islam, transaksi spekulasi diharamkan. Larangan ini bisa menyesatkan karena istilah spekulasi yang diutarakan didalam larangan itu bisa jadi tidak sama dengan apa yang sesungguhnya dimaksudkan dengan istilah ‘spekulasi’ tersebut. Hal ini harus diperjelas agar tidak menimbulkan keraguan dan kegagalan transaksi yang sebenarnya baik.

    1. Dalam konteks manajemen risiko, speculative risk berarti risiko yang outcome risikonya bukan hanya mengandung kemungkinan merugikan saja tapi juga mengandung kemungkinan menguntungkan, seperti layaknya menjalankan perusahaan.
    2. Dalam konteks ini, maka gharar dan maisir tidak bertentangan dengan speculative risk menurut versi risk management. Tindakan spekulasi yang dilarang Islam pasti jenis spekulasi yang lain dari yang dimaksudkan disini (didalam risk management ini).
    3. Kembali kepada postulat diatas, maka spekulasi yang dilarang menurut Islam adalah spekulasi dimana “salah satu atau kedua pihak yang terlibat transaksi atau usaha tidak memiliki pengetahuan tentang profil risiko transaksi atau risiko usahanya”. Dengan kata lain, spekulasi hanya dilarang jika risiko bersifat ‘unexpected ’ atau ‘tidak dapat diperkirakan’ bagi salah satu atau semua pihak yang terlibat transaksi.

Kesimpulan Tentang Transaksi spekulasi

Dari sudut pandang risiko, maka dapat penulis simpulkan bahwa;

(i) Definisi transaksi spekulatif yang relevan bagi ekonomi Islam adalah transaksi yang risikonya ‘tidak dapat diperkirakan’ sehingga transaksi tersebut diharamkan.

(ii) Jika, risiko sebuah transaksi adalah ‘expected’ atau ‘dapat diperkirakan’ walaupun dikatakan sebagai spekulatif maka transaksi tersebut sebenarnya halal, kecuali transaksi tersebut (i) diharamkan karena adanya ‘zat’ yang diharamkan, (ii) tidak ada tambahan value riel, (iii) zero sum atau keuntungan satu pihak sama dengan kerugian pihak lawan atau (iv) perpindahan hak tanpa adanya imbalan pertukaran.

  1. Persoalan yang menjadi relevan bagi Ekonomi Islam adalah :
    1. Terminologi ‘bisa diperkirakan’ atau ‘expected risk’ perlu diperjelas pedoman batasannya. Apakah kriterianya kuantitatif atau cukup kualitatif. Namun batasan tersebut tidak perlu jelas seratus persen, mengingat pada faktanya tidak ada transaksi yang seratus persen bisa bebas dari gharar[13]. Karena, antar pihak yang terlibat transaksi pasti tidak akan sama persis tingkat pengetahuannya tentang risiko transaksi yang mereka lakukan dan tidak ada manusia yang sempurna pengetahuannya tentang suatu objek atau transaksi.
    2. Dalam fenomena praktis, maka ‘expected ‘ atau ‘bisa diperkirakan’ cenderung diterjemahkan sebagai ‘cukup diketahui’ secara kualitatif.
    3. Mengingat ‘risk-sharing’ adalah instrumen utama ekonomi Islam, seharusnya ekonomi Islam sudah memiliki kajian ‘risiko’ yang lebih mendalam.

  1. Manajemen Risiko Perbankan Islam

Dengan membandingkan klasifikasi risiko model BSMR dan model IFI, sebenarnya sudah dapat dilihat adanya perbedaan tentang jenis-jenis risiko yang relevan bagi sebuah IFI, khususnya perbankan. Beberapa dimensi perbedaan penting dengan perbankan konvensional.

  1. Dari aspek jenis risiko

Dalam Credit Risk, IB (Islamic Bank) menghadapi risiko kredit yang lebih besar dibandingkan dengan CB (conventional bank), yang bersumber dari;

(i) Dalam murabahah, IB menghadapi risiko harga produk/objek murabahah,

(ii) Dalam murabahah, IB menghadapi risiko keterlambatan bayar angsuran tanpa denda, sementara pada sisi ‘passiva’, IB harus tetap memberikan bagi hasil tepat waktu.

(iii) Dalam mudarabah, IB menghadapi ‘agency problem’ terutama jika masalah ‘asymetric information’ cukup tinggi.

Dalam Market Risk, IB menghadapi risiko ‘mark-up’ akibat perubahan harga barang objek murabahah dipasar produk. CB tidak menghadapi masalah ini.

IB menghadapi jenis equity risk yang tidak dihadapi oleh CB sebagai akibat adanya transaksi mudharabah dan musyarakah. CB dapat menghadapi Equity risk, ketika CB membeli saham di pasar modal, namun risiko equity yang berasal dari mudharabah dan musyarakah jauh lebih tinggi risikonya karena;

(i) Investasi di mudharabah/musyarakah tidak bisa di ‘sekuritisasi’ dan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Investasi mudharabah/musyarakat adalah permanen. CB yang membeli saham di pasar modal dapat setiap waktu menjualnya kembali, bahkan dengan potensi keuntungan.

(ii) Investasi di mudharabah menghadapi risiko ‘moral hazard’ dari mudharib akibat fenomena ‘asymetric information’

Dalam menjalankan bisnis, IB menghadapi volatilitas hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan CB, karena:

(i) Equity investment membuat sumber hasil IB tergantung tingkat pengembalian bisnis mudharabah/musyarakah aktual. Pendapatan CB dari tingkat bunga relatif stabil dan dapat lebih diperkirakan

ALM risk. Secara teoritis, maka IB tidak akan menghadapi ‘negative spread’ sebagaimana CB. Posisi ‘missmatch’ antara sisi ‘assset’ dan ‘liability’ tidak terjadi pada IB, karena;

(i) Risiko tingkat bunga tidak ada. Hasil yang dibayarkan kepada deposan (shahibul mal) adalah hasil yang diperoleh dari usaha debitur (mudharib). CB membayar deposan berdasarkan tingkat bunga tetap, walaupun hasil bunga dari debitur yang ‘default’ tidak ada atau turun.

(ii) Dalam kondisi investasi yang ‘default’ maka teoritisnya IB tidak akan menghadapi risiko, karena ‘seluruh kerugian-mudharabah/musyarakah’ di sisi asset dapat ditransfer kepada deposan ‘mudharabah/musyarakah’. Jadi posisi ‘loss’ di sisi debitur (mudharib) akan sepenuhnya di-transfer kepada deposan. Ada proses ‘off-setting’ didalam IB, yang tidak terdapat pada CB. Dengan kata lain, teoritisnya IB akan menjadi lebih stabil dibandingkan CB. Jika kondisi ini baik untuk IB, kenapa mudharabah/musyarakah, yang berbasis PLS, tidak menjadi prioritas IB? Penyebabnya adalah (i) tingkat ‘trust’ yang rendah, (ii)ketidaksediaan IB untuk menanggung risiko systematic atau general risk yang sifatnya uncontrollable dan undivesifiable (credit or default risk). IB membiarkan atau mentrasfernya kepada ‘debitur’ melalui murabahah[14]. Dalam mudharabah akan membuat IB ikut menanggung systematic risk.

Shariah Risk

Shariah risk adalah risiko spesifik dari IB yang tidak ada pada CB. Shariah risk mencakup dua jenis;

(i) Risiko akibat tidak samanya ketentuan shariah antar Shariah Board

(ii) Risiko bahwa bank tidak menjalankan sesuai dengan ketentuan syariah

Shariah risk berkaitan dengan reputation risk yang akan menghasilkan bad outcome berupa turunnya tingkat ‘trust’ konsumen IB terhadap IB. CB tidak menghadapi hal ini, sehingga dari segi ekonomi kadang dikatakan bahwa CB lebih efisien karena tidak harus membiayai ‘shariah board’ dan melakukan proses konsultasi setiap kali sebuah variasi transaksi timbul.

Benchmarking Risk – Risiko Tingkat Bunga.

Walaupun teoritisnya, IB tidak menghadapi risiko tingkat bunga, dalam kenyataannya IB masih mengalami risiko tingkat bunga. Hal ini disebabkan karena prakteknya IB telah menggunakan tingkat bunga sebagai benchmark untuk menentukan (i) terutama mark-up transaksi murabahah, (ii) penentuan tingkat PLS transaksi mudharabah dan musyarakah dan (iii) didalam distribusi aktual bagi-profit bagi deposan. Jadi, dalam prakteknya, IB masih dipengaruhi oleh risiko interest rate, walaupun IB di-idealkan bersifat ‘free interest rate’.

Kesimpulan ‘umum’ Tentang Profil Risiko IB

Mengingat praktek penyaluran dana IB masih didominasi oleh Murabahah, maka profil risiko umum dari IB relatif tidak berbeda dengan CB, karena murabahah adalah ‘loan equivalent’. Artinya, credit risks menjadi risiko yang penting bagi IB. Implikasinya maka metode mitigasi risk dari IB harusnya relatif setara dengan CB.

Analisa Komparatif Risiko yang komprehensif IB vs CB

Kajian komparatif risiko antara IB dan CB sesungguhnya belum pada tahap yang komprehensif, khususnya untuk IB dalam lingkungan ‘dual banking system’ versi Indonesia. Analisa yang dilakukan di negara muslim lain, seperti Malaysia belum tentu akan menghasilkan kesimpulan yang sama mengingat adanya perbedaan regulasi CB, regulasi IB, perbedaan tingkat pertumbuhan IB, perbedaan jurisdiksi shariahnya, perbedaan level ‘trust’ dan perbedaan aplikasi substansi Islami oleh IB.

  1. Dari aspek ‘Risk Mitigation’

Mengingat bahwa pada prakteknya IB masih berkonsentrasi pada murabahah didalam sisi assetnya (penyaluran dana), maka risk management IB harusnya setara dengan CB. Dalam perspektif ‘risk mitigation’ ini, sebuah penelitian menunjukkan bahwa para bankir IB Malaysia, Bahrain, dan 12 negara lainnya ternyata konsisten dengan kesimpulan umum diatas bahwa para bankir IB memang memandang credit risk sebagai jenis risiko yang paling penting.[15]

Walaupun memiliki kesamaan persepsi tentang risiko ‘credit risk’ dengan CB, namun IB ternyata belum menggunakan metode risk measurement yang setara dengan yang diterapkan didalam CB yang telah memiliki panduan Basel Accord II. Metode VaR, Metode Simulation didalam risk measurement belum menjadi metode yang umum dipraktekkan oleh para bankir IB. [16]

========================================

EDDI ARNO

Pasca UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Tel. 0816-755-826


[1] Sertifikat Manajemen Risiko, BSMR-GARP, Level 1. 2008, Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR) – Global Association Risks Professionals (GARP)

[2] Workbook, BSMR, level 1, hal. A4, Jakarta, 2007

[3] T. Sunaryo, Manajemen risiko financial, Salemba Empat, Jakarta, 2007,P.12

[4] Philippe Jorion, Value at Risk, 3rd Edition, Mc Graw-Hill Company, New York, 2007, p.3

[5] Bramantyo Djohanputro, Corporate Risks Management, Penerbit PPM, Jakarta, 2008, p.31-32

[6] DR. Mamduh M. Hanafi, Manajemen Risiko, UPP YKPN, Yogyakarta, 2006, p.7

Hinsa Siahaan, Manajemen Risiko, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2007, p.6

[7] Bramtyo Djohan Putro, ibid, p.61

[8] BSMR, ibid, p.A3-B88

[9] Philippe Jorion, Value at Risk, ibid, p.516

[10] Zamir Iqbal & Abbas Mirakhor, An Introduction to Islamic Finance, John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd, Singapore, 2007, p.230

[11] James Lam, Enterprise Risk Management, BSMR, PT. Ray Indonesia, Jakarta, 2007, p.5

[12] James Lam, ibid, p.5

[13] Mohmoud A El-Gamal, Islamic Finance, Cambridge University Press, New York, 2006, p.58

[14] Saiful Azhar Rosly, Islamic Banking And Financial Market, Dinamas Publishing, Kuala Lumpur, 2005, P.562

[15] Noraini Mohd Ariffin, Simon Archer and Rifaat Ahmed Abdel Karem, Risk Reporting of Islamic Bank, Jurnal EKSIS, Vol. 2, No.1, Pascasarjana UI, Januari-Maret 2006, p. 33

[16] Noraini et.all, ibid, p.34

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.