Agustus 2007


Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Sekilas Eksistensi Jurnalistik Islam

Oleh: Muhammad Zen[*]

“ Dan hendaklah ada sebagian diantara kamu sekelompok orang yang senantiasa mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. 3: 104)

(lebih…)

Iklan

TAHUN EVALUASI

M. Zen *

Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu. Waktu bagaikan air yang mengalir. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia waktu mempunyai arti sebagai seluruh rangkaian saat, yang telah berlalu, sekarang dan akan datang. Waktu berkaitan dengan bulan dan matahari. Sejak perjalanan malam saat terbenam dan siang saat terbitnya. Ketika beberapa orang sahabat Nabi saw mengamati keadaan bulan yang sedikit demi sedikit berubah dari sabit ke purnama, kemudian kembali menjadi sabit dan kemudian menghilang, mereka bertanya kepada Nabi, “Mengapa demikian?” Al-Qur’an pun menjawab, Yang demikian itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan menetapkan waktu ibadah haji (Al-Baqarah (2): 189)

(lebih…)

KEMISKINAN SPIRITUAL SEBAGAI PENYEBAB KERUSAKAN BANGSA
Oleh: Muhammad Zen[*] (lebih…)

MENCARI KARYAWAN TELADAN SEJATI; Membumikannya di PT Bakrie Pipe Industries

Oleh: Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA

Cara Menjadi Karyawan Teladan“Hati adalah raja,” ujar KH. Abdullah Gymnastiar, pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung. Sebab, bila seseorang memiliki hati yang baik, maka akan baiklah perilakunya, yaitu perilaku yang dipenuhi rasa ikhlas, jujur dan disiplin. Keikhlasan adalah modal dasar kesempurnaan suatu pekerjaan. Kejujuran adalah modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi (pengabdian), dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari sebagai seorang karyawan. Dan, disiplin adalah modal dasar untuk membentuk kader-kader unggul yang selalu haus prestasi.

(lebih…)

Oleh: Muhammad Zen

Dalam Islam kita dianjurkan untuk menjaga kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Islam mengajarkan kepada umatnya menjaga kebersihan dan menkonsumsi makanan yang halal dan toyyib. Bukankah kebersihan sebagian dari pada iman? Oleh karena itu Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin mengajarakan kita berbagai aspek kehidupan demikian halnya aspek kesehatan. Dalam kajian fiqih Islam mengajarkan kita pola hidup sehat, orang yang berhadas besar diwajibkan mandi wajib, dianjurkan untuk berwudhu, jika tidak ada bertayamum, bersuci diri dari najis, menggosok gigi, mandi setiap hari, berolah raga, menjaga pola makan yang halal dan toyyib. Demikian halnya, agar kesehatan mental terjaga, senantiasa sehat dan berenergi, kita dianjurkan berzikir kepada Allah. Bukankah dengan berzikir kepada-Nya hati menjadi tenang.

(lebih…)

PENYUCIAN JIWA

Oleh: Muhammad Zen El-Bekasy* 

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. 92. 9-10)

 

            Ayat di atas menjelaskan bahwa menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs) merupakan resep  kunci menuju kebahagiaan hidup. Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki cipta, karsa dan rasa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tak terelakkan adanya kesalahan (sengaja atau tak sengaja). Pada zaman Nabi, orang-orang yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik sebagai upaya menyucikan dirinya –menghindari kesalahan atau dosa– biasanya berpakaian sederhana terbuat dari wol yang sangat kasar. Demikian halnya semasa dinasti Abbasiyah berkuasa di Bagdad,  banyak yang berdoyong-doyong  menjauhkan diri dari keduniaan dan menjadi zahid. Mereka berusaha keras memerangi nafsu-nafsu yang tidak baik dalam diri mereka. Kesadaran telah terpatri dalam dada mereka, tidak ada manusia yang tidak berbuat kehilafan. Sehingga keengganan merealisasikan kebahagiaan dunia dinafikan, kehidupan akhirat  ansich yang dikejar-kejar.

 

            Konteks menyucikan jiwa saat sekarang bukan berarti  meninggalkan kehidupan dunia, sebaliknya memadukan antara menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Jalaluddin ar-Rumi, sufi ternama, menganjurkan agar orang selalu bekerja, berusaha dan berjuang. Umat Islam diperkenankan untuk menjadi seorang jutawan. Sesuai ungkapan Rasulullah Saw., “Alangkah bagusnya harta yang baik di tangan hamba yang shalih”. Sikap apatis orang-orang yang shalih dalam menghadapi hidup di dunia ini akan  mengakibatkan timbulnya dominasi kepemimpinan orang-orang fasik dan dhalim.

 

Pemimpin negara akan dimintai pertanggung-jawabannya atas segala apa yang diperbuatnya. Untuk menyucikan jiwa dalam berbangsa dan bernegara di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, pemimpin hendaknya menyucikan diri dan kabinetnya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan bangsa dan negara (melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme). Di samping tidak mengulangi kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan pemimpin-pemimpin pendahulu negri ini sebagai upaya jera untuk membuat kesalahan tersebut (taubat). Merealisasikan program –amar ma’ruf nahi munkar– dalam memajukan bangsa dan negara sangat dinanti jutaan rakyat.

 Tegaknya supremasi hukum, kerukunan, kedamaian dan terjaganya integrasi bangsa menjadi keharusan mutlak. Di samping problem riil yang dihadapi rakyat Indonesia, pemerintah hendaknya memperhatikan terhadap daerah-daerah gempa bumi, peledakan bom dan  pengungsian akibat kerusuhan menjadi prioritas utama. Menuju negeri yang baldatun toyyibatun warabbun ghofur. “Usahakanlah hal ini, lalu pasrahkan kepada Allah (tawakkal)”.(al-Hadits)

PESAN MORAL BERKORBAN[*] 

Mengatasi Konflik dengan Pendekatan Manajemen Qalbu

Oleh: Muhammad Zen HS

 

Kaum muslimin rahima kumullah

            Marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dengan cara meningkatkan amal kebaikan, menjalani segala apa yang diperintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Sebab dengan cara demikian, hidup kita di dunia ini akan mempunyai arti atau makna sehingga selamat di dunia sampai di negeri akhirat.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

            Baru saja kita telah melaksanakan hari raya Idul Adha, yang disertai dengan melaksanakan ibadah Qurban yang pelaksanaan ibadah qurban tersebut telah diatur dalam ajaran Islam sedemikian rupa yaitu pada hari raya Idul Adha sampai tiga hari sesudahnya. Tepatnya berakhir pada saat maghrib hari ketiga belas Dzul-hijjah  yang lebih dikenal masa berakhirnya hari  tasyriq. Keterangan tersebut bisa kita lihat dari berbagai hadis yang diriwayatkan oleh Imam  Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya.

 

Kaum musilimin rahimakumullah

            Dalam pelaksanaan ibadah qurban, kita bisa memetik hikmah atau pesan moral yang terkandung didalam pelaksanaan ibadah qurban tersebut, yaitu :

1. Ibadah qurban merupakan apresiasi sejarah kehidupan manusia, ditandai sebagai wujud adanya pengabdian dan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT semata. Hal tersebut dibuktikan oleh Bapak para Nabi, yaitu Ibrahim as untuk mengorbankan anak terkasih, ismail, yang sekian puluh tahun diidam-idamkan kehadirannya. Akan tetapi, setelah lahir dan menjelang dewasa Allah menguji Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya (Ismail).

2. Dengan membagikan daging Qurban kepada para faqir/ miskin merupakan sebagai syi’ar agama Islam  dan sebagai wujud solideritas sosial. Yang terpenting dari hikmah tersebut  mengajarkan kepada kita untuk hidup di dunia bagaimana bisa hidup rukun, berdampingan, tentram dan penuh kedamaian. Sebagai hal yang konkret sebagai contoh yaitu tidak menganiaya sesama manusia.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

            Alangkah indahnya jika kehidupan di dunia ini adanya kedamaian, kesejahteraan dan kesentosaan. Untuk mencapai hidup tentram sejahtera bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab masing-masing orang mempunyai berbagai kepentingan  dan ambisi, dapat kita saksikan sekarang dalam peristiwa yang ada di negeri tercinta ini manusia bertindak dibatas nilai-nilai kemanusiaan. Mereka saling tindas-menindas, saling tuduh-menuduh yang lebih parah lagi yaitu saling bunuh-membunuh. Seolah-olah nyawa manusia tidak berharga sama sekali, peristiwa tersebut bisa kita lihat dalam kasat mata kita sendiri. Peristiwa pertikaian antar etnis yang terjadi belakangan ini di Sampit Kalimatan Tengah. Sampit salah adalah satu contoh yang mewakili dari berbagai peristiwa yang ada di negeri tercinta ini.

 

            Kata kunci yang terpenting untuk mengatasi hal tersebut, Islam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantisa tidak berbuat zalim atau aniaya, apalagi sampai merampas nyawa orang lain. Sebab perbuatan zalim tersebut akan menimbulkan ketidaktentraman dan ketidaknyamanan  hidup di muka bumi ini. Perbuatan zalim jika dilakukan oleh seorang kepala negara kepada rakyatnya, maka rakyat akan menjadi sengsara. Bahkan akan menyebabkan terjadinya pemberontakan, demonstrasi dan ketidakpuasan lainnya. Jika yang berbuat zalim adalah pemimpin terhadap anak buahnya, maka akan timbul ketidaktentraman dalam suasana kerja di lingkungannya itu. Demikian juga jika yang melakukan perbuatan zalim dilakukan oleh kepala keluarga kepada anak dan isterinya atau orang-orang yang menjadi tanggung-jawabnya, maka akan timbul ketidak-harmonisan dalam berkeluarga. Singkatnya bahwa perbuatan zalim (aniaya) akan menimbulkan malapetaka atau marabahaya.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Allah SWT secara tegas melarang agar kita tidak berbuat zalim sebaga mana firman-Nya :

 

  لاَ تَظْلِمُوْنَ َولاَ تُظْلَمُوْنَ (البقرة: 279)

“ Janganlah kamu berbuat zalim dan janganlah pula (bersedia) dizalimi” (al-Baqarah:279)

           

 Di dalam hadis, rasulullah bersabda:

اِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jauhilah perbuatan zalim, karena sesungguhnya zalim itu akan menimbulkan kegelapan pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Tabrani dan baihaqi)

 

            Mengenai perbuatan zalim Syeikh Abul A’la Al-Maududi, beliau membaginya menjadi tiga katagori:1. Zalim Terhadap Allah

            Zalim terhadap Allah, berarti tidak mau menjalankan semua yang diperintah-Nya, dan bahkan melanggar larangan-larangan-Nya. Sebab Allah telah  memberi segala keperluan hidup manusia seperti makan, minum sandang dan papan serta segala keperluan lainnya dengan gratis. Tetapi mengapa hanya beribadah sebentar saja tidak mau, bukankanh itu termasuk zalim?

 2. Zalim Kepada Diri Sendiri

            Tiap-tiap orang mempunyai hak-hak pribadi yang harus dipeliharanya sendiri, dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya. Apabila hak-hak dan kewajiban pribadi tidak dipelihara atau dilaksanakan, maka hal itu berarti merusak diri sendiri. Kelak di akhirat, antara tubuh dan diri seseorang akan terjadi  saling protes. Karena tubuh manusia itu penuh maksiat.  (lihat surat yasin: 65)

 3. Zalim Terhadap Makhluk           

Zalim terhadap orang lain, misalnya menyakitinya, merampas hartanya, dan merampas hak orang lain, serta berlaku sewenang-wenang bahkan sampai membunuh orang lain.  Perbuatan tersebut sungguh sangat berat siksanya di akhirat kelak.. Sebagai mana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mu’min, ayat:18

مَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ حَمِيْمٍ وَلآ شَفِيْعٍ يُطَاعٌ

Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seseorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafaatnya”  

 Kaum muslimin rahimakumullah

            Perbuatan zalim atau aniaya, siapa pun yang malakukannya, pasti akan menimbulkan malapetaka. Apakah itu secara pribadi, keluarga, kelompok masyarakat atau negara, sudah menjadi hukum alam, pastilah perbuatan zalim akan menimbulkan keresahan, kekacauan dan ketidak-tentraman. Sejarah telah membuktikan perbuatan zalim pasti akan dihancurkan oleh Allah SWT. Sebagai mana Firman-Nya:

 وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُوْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوْا وَجَآءَتْهُمْ رُسُلُهُْم بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ  

“Dan sesungguhnya telah Kami binasakan beberapa kaum sebelum kamu tatkala mereka berlaku zalim, dan telah datang kepada mereka rasul-rasul (membawa) keterangan-keterangan, tetapi mereka tidak percaya. Demikianlah Kami balas terhadapa kaum yang merusak itu” (Yunus: 13)

 

            Demikianlah yang dapat khatib sampaikan pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan Allah SWT selalu menjaga diri kita dari perbuatan zalim dan mengarahkannya menuju jalan yang diridhai-Nya. Dan kita berdoa bersama-sama mudah-mudahan bangsa Indonesia ini mampu mengatasi kemelut dan problem-problem yang ada di dalamnya baik penngan kasus Sampit dan sebagainya dengan harapan integrasi bangsa tidak ternodai, sehinggga rasa aman, damai, tentram, dan sejahtera akan mudah digapai dengan kata lain tercipta negara yang baldatun tayyibatun warabbun gafur.  Waallahu a’lam

   


[*] Disampaikan dalam Khutbah Jum’at tanggal 9 Maret 2001 di Masjid Jami Al-Ikhlas Rawa Pasung Bekasi

Laman Berikutnya »