MEREGUK KEMULYAAN RAMADHAN*

Oleh: Muhammad Zen[*]*

 

Setiap umat Islam di belahan penjuru dunia menyambut gembira akan munculnya kembali bulan yang penuh berkah. Bulan yang berbeda dengan bulan lainnya. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari tahun Hijriah. Bulan Ramadan, dalam Islam, adalah bulan yang istimewa dan mempunyai kedudukan yang mulia. Makna penting dan kemuliaan ramadhan terlihat banyak nama yang disandang dalam bulan ini, dan setiap nama itu mempunyai arti tersendiri. Nama-nama bulan Ramadhan ini di antaranya: (1) Syahr Allah (bulan Allah) karena Allah SWT yang memberikan pahala bagi orang  yang  melakukan  kebaikan (ibadah) di dalamnya. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW dari Abu Hurairah yang artinya. “Telah berfirman Allah ‘Azza wajalla: tiap-tiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang  akan membalasnya. Puasa itu adalah perisai, oleh karena itu apabila seseorang sedang berpuasa janganlah mengucapkan kata-kata kotor  dan keji yang membangkitkan syahwat. Apabila ia dimaki atau ditantang oleh seseorang, hendaklah ia berkata, ‘saya sedang puasa’.”(HR.Bukhari)

 (2) Syahr ala-i (bulan yang penuh nikmat dan rahmat) karena pada bulan ini Allah SWT memberikan nikmat dan karunia yang berlipat ganda. (3) Syahr al-Qur’an (bulan diturunkannya Al-Qur’an) . (4) Syahr an-Najah (bulan pelepasan diri dari siksa neraka).  (5) Syahr al-Jud (bulan kedermawanan) karena pada bulan ini dianjurkan agar lebih banyak memberikan bantuan kepada orang lain, terutama fakir miskin..  (6) Syahr al-Muwasah  (bulan memberi-kan pertolongan kepada orang berhajat).  (7) Syahr at-tilawah  (bulam membaca Al-Qur’an). (8) Syahr as-Shabri  (bulan latihan bersabar atas penderitaan dengan rela hati).  (9) Syahr ar-rahmah  (bulan tempat Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya).  (10)  Syahr as-Shiyam ( bulan puasa,yang setiap muslim wajib melaksa-nakannya kecuali karena uzur).  (11)  Syahr al-’id  (bulan yang  akhirnya disambut  dengan hari raya).  Dan banyak lagi nama julukan yang diberikan untuk bulan Ramadhan itu

Dalam kilasan sejarah dapat direkam bahwa dalam bulan ramadhan terdapat banyak peristiwa penting dan bersejarah dalam Islam yang membuat bulan ini selalu dikenang oleh kaum muslimin antara lain sebagai berikut: (1) pada bulan ini diturunkannya Al-Qur’an (Nuzul al-Quran) kepada Muhammad Saw. (2) pada bulan ini, Nabi Saw. bersama kaum Muslimin memperoleh kemenangan besar dalam Perang Badar (2 H/624 M), keberhasilan menguasai kota Makkah (8 H/630 M) Demikian juga bagaimana umat Islam sepeninggal beliau, misalnya kemenangan di Spanyol terjadi pada bulan Ramadhan (91 H/ 710 M), sampai konteks Indonesiapun ramadhan mempunyai arti tersendiri bahwa berhasilnya Proklamasi  Kemerdekaan Indonesia terjadi pada bulan yang mulia ini dengan kucuran darah dan air mata bahkan jiwa dan harta para syuhada..

Di samping peristiwa-peristiwa tersebut, yang lebih penting lagi bahwa Allah memang telah memuliakan bulan ini di atas bulan-bulan yang lain. Hal itu terlihat dari beberapa indikasi yang dapat kita baca dalam  al-Qur’an dan beberapa hadits Nabi; seperti:

1. Pada bulan ini diwajibkannya berpuasa kepada kaum Muslimin.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai-mana telah diwajibkan atas orang-oreang sebelum kamu, agar kemu bertaqwa”. (QS.2:183)

Kalimat kamaa kutiba ‘alalladziina min qoblikum  mengindikasikan bahwa perintah puasa itu tidak hanya diberlakukan kepada Nabi akhir zaman Muhammad saw. Melainkan perintah puasa itu juga pernah diwajibkan kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad Saw. Menurut Samirah Sayyid Sulaiman al-Bayumi, seorang ulama fikih dari Mesir, Nabi Nuh a.s. berpuasa sepanjang tahun, Nabi Daud a.s. juga melaksanakan puasa dengan cara sehari berpuasa dan sehari tidak atau berbuka dan seterusnya, sedangkan Nabi Isa a.s. berpuasa satu hari dan berbuka dua hari atau lebih dan seterusnya. Hanya saja dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan di antara syariat-syariat nabi-nabi tersebut.

2. Pada bulan ini, terdapat Lailat al-qadar yang mempunyai nilai lebih baik daripada seribu bulan.

      “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS.97: 1-5).

3. Pada bulan ini, Allah membuka pintu surga lebar-lebar dan menuutup pintu neraka (meskipun dalam arti kiasan). Sabda Rasulullah SAW: “Apabila Pada bulan Ramadhan itu pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu Malaikat berseru, ‘Hai pecinta kebaikan bergembiralah. Hai orang-orang yang suka berbuat jahat, berhentilah hingga berakhirnya bulan Ramadan.’.”(HR.Ahmad dan an-Nasa’i).

4. Orang yang berpuasa dengan penghayatan yang mendalam di bulan Ramadan diberikan ampunan atas segala dosanya. Sabda Rasulullah  SAW yang diriwayatan Ahmad dan Ashab as-Sunan yang artinya: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan, betul-betul karena iman dan karena mengharap ridha Tuhan, dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni Allah SWT.”  (HR. Bukhori)

5. Puasa merupakan salah satu rukun Islam sebagaimana sabdanya: “Islam itu didirikan di atas lima perkara: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya  Muhammad itu utusan (rasul)  Allah, mendirikan shalat, mebayar zakat, puasa pada bulan Ramadhan. Dan pergi haji bagi saiapa yang mampu melaksanakananya.” (H.R. al-Bukhari)  

Perintah Puasa

Perintah berpuasa di bulan Ramadhan belum diwajibkan pada waktu Nabi Muhammad Saw. berdakwah di Mekah, tetapi perintah ini baru dimulai pada periode Madinah. Tepatnya puasa baru diwajibkan Allah SWT pada tahun 2 H. Rule of game puasa diwajibkan dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan (hilal, bulan sabit) pada awal bulan Ramadhan; dan apabila langit dalam keadaan berawan, maka bulan Sya`ban disempurnakan menjadi tigapuluh hari, dan setelah itu dimulailah bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 185.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه {البقرة : 185}

“Barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (QS al-Baqarah/2: 185).

Pada bulan puasa ini juga disunatkan untuk menunaikan ibadah yang lainnya sebagai berikut:

a. Makan sahur, yaitu makan di akhir malam menjelang terbitnya fajar.

b. Mempercepat berbuka puasa setelah terbenamnya matahari.

c. Membaca doa sebelum berbuka puasa. Doa itu sebagai berikut:

d. Memberikan makan untuk berbuka kepada orang-orang yang berpuasa walaupun sebuah kurma atau segelas air.

e. Mandi junub, haid dan nifas sebelum terbit fajar, sehingga memasuki puasa, badan sudah berada dalam keadaan bersih dan suci.

f. Menahan lidah dan anggota badan lainnya dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang berlebihan dan tidak ada manfaatnya.

g. Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.

h. Aktif dalam kegiatan ilmiah, membaca dan mempelajari al-Qur’an, berzikir dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw., baik pada siang hari maupun pada malam hari.

I. I’tikaf di masjid, terutama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Kata Ramadhan terambil dari akar kata ramadha yang berarti “membakar/ panas” atau “mengasah”. Ia dinamai demikian karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya. Atau disebut demikian karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.  Sehingga terbiasa menjalankan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Puasa juga sebagai ajang latihan dalam upaya  pengendalian diri dan hawa nafsu. Puasa merupakan sarana yang kuat untuk memerdekakan diri dari belenggu keinginan, hasrat, dan nafsu-nafsu fisik, nafsu-nafsu yang bersifat material, dorongan-dorongan dan daya tarik duniawiyah; dan membersihkan manusia dari dosa-dosa badani. Orang yang mampu menahan diri dari memuaskan keinginan fisiknya, akan mampu pula membebaskan diri dari belenggu dorongan-dorongan hawa nafsunya.

Menuai hikmah

Dengan berpuasa, seorang muslim meninggalkan perbuatan yang biasa mereka lakukan di siang hari. Meninggalkan kebiasaan seperti itu akan memperkuat mental umat Islam untuk meninggalkan kebiasaan buruk  Bahkan kewajiban berpuasa telah pula mem-perkuat arti persaudaraan dan persamaan di hadapan Tuhan. Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan latihan rohani yang luar biasa. Ibadah puasa dapat membina ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam. Dengan puasa kepekaan dan kepedulian sosial umat Islam ditumbuhkan dan dibina, karena ia menimbulkan rasa kasih sayang antar sesama. Orang yang berpuasa dan merasakan pahit getirnya lapar, maka akan timbul di dalam dirinya perasaan iba dan kasih sayang kepada fakir miskin yang tidak mampu memenuhi hajat hidupnya sehari-hari.          Artinya puasa mendidik kita menjadi pribadi yang berkepedulian sosial, manusia yang berkeadilan. Sebab, penyembahan harta, dan keserakahan terhadap harta, selalu menjadi sebab timbulnya kerusuhan, penindasan, dan ketidakadilan.

Ibadah dalam bulan Ramadhan, bagaimana pun harus dipahami sebagai upaya membebaskan manusia dari perhambaan terhadap harta benda dan hal-hal yang bersifat material, hal-hal yang bersifat kepentingan sesaat, kepentingan duniawi, dan kepentingan lainnya. Dalam ibadah puasa orang dididik bahwa keridhaan Allah lebih besar daripada dunia dengan segala isinya. Oleh karena itu, apabila seseorang berhasil dalam menunaikan puasa, orang itu tidak akan lagi membabi buta mengejar kekayaan, bila kekayaan itu mengundang murka Allah; dia tidak akan lagi mempertahankan kekuasaan, bila kekuasaan itu menghalanginya untuk mencapai ridha Allah.

Ajaran agama menganjurkan kepada kita hari ini tak boleh sama kualitasnya, apalagi lebih buruk daripada hari kemarin, dan hari esok pun harus lebih baik daripada hari ini. Takwa tidak mungkin dicapai tanpa proses pembersihan diri. Latihan-latihan spiritual yang telah kita lalui selama bulan Ramadhan, karena itu hendaknya betul-betul dapat memupuk dan memperkuat hati kita untuk terus beribadah kepada-Nya, karena seluruh ajaran Islam dimaksudkan untuk mensucikan diri manusia.  Sejalan dengan hikmah puasa di atas, ibadah puasa pada bulan Ramadhan ini ditutup dengan ibadah lainnya, yaitu zakat fitrah.  Zakat fitrah ini jika dicari hikmah yang terkandung di dalamnya akan ditemui dapat menimbulkan kemurahan dan kedermawanan, jiwa manusia menjadi manusiawi. Dengan berpuasa orang dapat merasakan penderitaan orang-orang miskin yang pada akhirnya membawa seseorang untuk memikirkan nasib orang-orang miskin tersebut.

Sebagai renungan bersama bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah puasa di bulan Ramadhan yang lalu dapat kita raih, dapat kita hayati, dan dapat kita amalkan, dapat diprediksikan bahwa kepongahan suatu kelompok, keangkuhan personal, kefanatikan, rasa mau menang sendiri, dan kesewenang-wenangan akan sirna dari lubuk hati manusia yang beriman. Kedamaian akan datang menyelimuti kehidupan masyarakat.

Terakhir, puasa juga akan menyehatkan diri atau badan, karena pekerjaan perut tidak terlalu berat sebagaimana pada hari-hari biasa. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda: “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat”. (HR Abu Dawud). Terlepas dari hikmah yang terkandung di dalam bulan ramadhan, hendaknya ketika beribadah meluruskan niat kita beribadah hanya mengadi dan menjalankan apa yang telah disayariatkan oleh Allah SWT. Janganlah puasa kita hanya semata-mata mengejar hikmah yang terkandung di dalamnya, lalu menafikan substansinya agar menjadi benar-benar bertakwa, tentunya dengan harapan agar puasa kita mendapat ridha di sisi Allah SWT. Amin. Waallahu a’lam bi ash-shawab.  


*Makalah ini disampaikan di Lembaga Dakwah Kampus fakultas Dirasah Islamiyah Al-Azhar tanggal 27 November 2001.

[*]*Penulis adalah sarjana Fakultas dakwah IAIN Jakarta dan Pemimpin Redaksi Jurnal Kajian Manajemen dan Lembaga Islam “MANIS”