Aqidah Melaksanakan Puasa

Oleh: Muhammad Zen[1]

 Saat berbicara puasa, akan mengantarkan kita mencermati Filosopi Hewan berpuasa, kenapa hewan juga berpuasa?Ular berpuasa saat ingin mengganti kulit menjadi kulit baru, ulat berpuasa saat membuat kepompong menuju menjadi wajah baru (kupu-kupu), ayam berpuasa saat mengerami telurnya agar dapat menetaskan anaknya. Perlu adanya perenungan bersama, ayam saat mengerami telur akan berbuah hasil yang baik dengan menetasnya anak ayam dan tidak dapat hasil yang baik dengan menjadi telur busuk/tembuhuk.Melaksanakan ibadah Puasa juga ternyata dapat menghasilkan dua hasil, bagi yang menjalani ibadah puasa dengan keimanan dan keihlasan akan membuahkan hasil yang baik bagaikan anak ayam/ pitik yang suci bersih sebab akan menghadapi hari bahagia idul fitri (kembali suci). Lain halnya mereka yang berpuasa tidak dengan keimanan hanya mengharap pujian akan membuahkan hasil yang tidak baik menjadi telur busuk dan tidak menjadi fitrah.

Arsitektur perintah puasa ibarat sebuah mesin, butuh istirahat.  Puasa dapat mencegah metabolisme kekebalan tubuh. Mengganti zat atau organ tubuh yang sudah rusak menjadi baik.

 Sumu tasihhu….Sebagai seorang muslim tentu bukan hikmah yang dicari, melainkan rasa aqidah atau keimanan yang mantap sebagai seorang hamba. Kenapa kita diwajibkan puasa?

Seluruh umat islam berpuasa sebab keimanan (akidah). Aqidah berasal dari kata aqd yang berarti pengikatan. “I’taqadtu Kadza” artinya “Saya beri’tikad begini”. Maksudnya, saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, “Dia mempunyai aqidah yang benar,” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Secara Syara, ‘Aqidah adalah iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan kepada Hari Akhir serta kepada Qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.


Syari’at terbagi menjadi dua; I’tiqadiyah dan Amaliyah. I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap keesaan Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, juga ber-i’tiqad terhadap rukun-rukun iman yang lain. Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tatacara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah. Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal.

Contoh yang paling umum yang dapat terjadi pada setiap hamba adalah bagaimana praktek bertauhid kita pada saat menghadapi berbagai macam problem hidup, saat beribadah sholat, zakat, puasa. Kebanyakan dari manusia lari mencari tempat peraduan dan berupaya memperoleh jalan keluar dengan memohon pertolongan kepada orang yang dianggap pintar/paranormal/dukun. Mereka lari kepada sesama makhluk tidak lari kepada Tuhannya. Sesungguhnya para dukun dan paranormal itu sendiri memiliki banyak problem hidup yang oleh diri sendiri tidak sanggup untuk mengubahnya. Maka bagaimana mungkin kita harus mengadu dan minta pertolongan kepada sesama hamba.

41. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut (29):41)

3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”.  (QS. Az-Zumar (39):3) 

Maka orang-orang yang bertauhid benar dan lurus adalah mereka bersabar menghadapi problem seraya mengadu kehadapan Tuhan-nya dan berharap pertolongan dari-Nya. Bahkan orang yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi banyak yang merasa nikmat dengan adanya cobaan dan problem dalam hidupnya. Mereka menikmati betul akan kemanisan imannya dan mereka menyembunyikan problem-problem berat kepada sesama makhluk. Mereka hanya mengadu kepada Tuhan-nya. Mereka bertambah mulia derajatnya dengan bertambahnya ujian dan cobaan yang dihadapkannya dari Tuhan-nya.

Al-Qani’u ghaniyunDalam syirah nabawiah kita melihat praktek nabi SAW dalam membangun kekuatan Islam adalah dengan benteng aqidah Islam. Disini menjadi jelas bahwa fungsi membangun akidah yang benar merupakan satu keharusan bagi seluruh umat Islam. Janganlah kita terbuai menjual akidah kita dengan supermi, indomi, sembako, dsb.

Jadi, sudah selayaknya kita sebagai kaum muslimin saat menjalankan puasa merupakan sebagai bentuk keimanan kita sebagai hamba.

Sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah 183

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.         

Marilah kita mulai memperbaiki bangsa dan umat ini dari individu per individu. Bukankah kerusakan bangsa ini berasal dari individu-individu. Satukanlah langkah dalam membangun. Bahu membahu dalam kebajikan dan takwa. Saling memberantas segala keburukan. Marilah kita mulai melahirkan generasi yang baik dari kehidupan individu kita, keluarga, lingkungan, masyarakat, dan bangsa kita melalui ibadah puasa. Aula Syahid Computer, 07 oktober 2006   


[1] Ceramah ini disampaikan pada qultum sholat tarawih di Masjid An-Nur Rawamangun 07 Oktober 2006.