Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Sekilas Eksistensi Jurnalistik Islam

Oleh: Muhammad Zen[*]

“ Dan hendaklah ada sebagian diantara kamu sekelompok orang yang senantiasa mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. 3: 104)

Istilah junalistik berasal dari bahasa Belanda journaistiek. Seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris journalism yang bersumber pada perkataan journal, ini merupakan terjemahan dari bahasa latin diurna yang berarti “harian” atau “setiap hari”. Sederhananya, journal” diartikan sebagai majalah, suratkabar, dan diary (buku catatan harian). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah Jurnalistik mempunyai arti yang menyangkut “kewartawanan dan persurat kabaran”.

Berbicara tentang junalistik, sepertinya masalah besar bagi umat Islam pada era informasi sekarang ini salah satunya adalah tidak memilikinya suatu media yang memadai untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam. Walaupun ada beberapa media bernuansa Islam, tapi jumlahnya tidak begitu banyak. Akibatnya yang terjadi tidak hanya kurang tersalurkannya aspirasi umat, tetapi juga umat Islam hanya menjadi konsumen bagi media non-Islam. Media tersebut tak lain yang jarang membawa informasi yang tidak relevan dalam rangka pemberdayaan umat.

Era informsi ini umat Islam tengah dilanda invasi pemikiran dan budaya (ghazwul fikr wa ghazwuts tsaqof) barat. Dunia Islam tampak tidak berdaya menghadapi serangan pers Barat, yang bermisi menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya dan membuat opini umum (public opinion) atau kesan yang buruk tentang Islam.

Melihat situasi seperti itu, menjadi kewajiban kiranya umat Islam harus semakin kritis terhadap informasi yang tiap hari diterima. Sehingga untuk mensosialisasikan nilai-nilai Islam sekaligus meng-counter dan mem-filter derasnya arus informasi jahili dari Barat perlu ditumbuh-kembangkan jurnalistik Islami. Jurnalistik Islami mengemban misi ‘amar ma’ruf nahyi munkar’.

Jadi jurnalistik Islami senantiasa menghindari gambar-gambar ataupun ungkapan-ungkapan yang tidak Islami (pornografis), menjauhkan promosi kemaksiatan, atau hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti fitnah, pemutarbalikkan fakta, berita bohong, mendukung kemunkaran, dan sebagainya. Sebagai kata kunci, jurnalistik berusaha menyejukkan jiwa dan mengungkapkan secara obyektif.Jurnalistik islami harus mampu mempengaruhi khalayak agar berperilaku sesuai dengan norma-norma islami dan menawarkan solusi atas berbagai masalah. Cek dan ricek sebagai salah satu ‘pedoman’ jurnalistik umum, tentu saja harus pula ditaati oleh jurnalistik islami. Apalagi Allah SWT telah mengingatkan lewat firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang padamu orang-orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tapa mengetahui keadaannya…”(QS. 49: 6)Setidak-tidaknya ada lima peranan jurnalis muslim yaitu:1. Sebagai pendidik (muaddib)2. Sebagai pelurus informasi (musaddid)3. Sebagai pemersatu (muwahid)4. Sebagai pejuang (mujahid)Dewasa ini, dapat dikatakan bahwa jurnalistik Islam kalah unggul dan kalah pamor oleh jurnalistik umum.

Untuk itulah, perlu dicermati apa yang menyebabkan posisi seperti tu? Bisa dikumpulkan alasannya sebagai berikut:1. Kurang atau lemahnya dukungan dana.2. Lemahnya manajemen akibat kurang/ tidak profesionalnya para pengelola, sehingga gaya bahasa, teknik penulisan, pemilihan topik,, serta tampilan produk –termasuk perwajahan/ cover- kurang atau tidak menarik perhatian dan minat membaca orang.3. Masih lemahnya kesadaran informatif umat Islam akan masalah-masalah keislamanan. Mereka masih lebih tertarik oleh informasi non-Islam, atau lebih senang membaca/ membeli pers umum.

Simulasi

“Media Cetak + Elektronika”

  1. Terbaik?

Mengapa?

  1. Terlaris?

Mengapa?

  1. Terburuk

Tapi terlaris?Mengapa?

  1. Terbaik?

Tapi terlaris? Mengapa?

Karya-karya tulis, Akan kekal sepanjang masa, Sementara penulisnya,

Hancur terkubur di bawah tanah” (Prof. KH. Ali Mustofa Yaqub)

Referensi:

  1. Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Praktis Untuk Pemula, (Jakarta: Rosda, 2000), Cet. ke-1
  2. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, MA.,Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Jakarta: Rosda, 1998), Cet. ke-1
  3. Drs. Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: CV. Gaya Media Pratama, 1998), Cet. ke-1
  4. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Depdikbud, 1999)


[*] Penyaji adalah Pemimpin Redaksi Buletin Dakwah Umat Nabawi dan Pemimpin Redaksi Jurnal Kajian Manajemen dan Lembaga Islam ‘Manis’. Tulisan ini disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik Pesantren Persatuan Islam, Kamis 10 Mei 2001

(Tulisan ini disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik  di SMU Pesantren Persatuan Islam (PERSIS), Jakarta Timur Kamis 10 Mei 2001)