TAHUN EVALUASI

M. Zen *

Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu. Waktu bagaikan air yang mengalir. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia waktu mempunyai arti sebagai seluruh rangkaian saat, yang telah berlalu, sekarang dan akan datang. Waktu berkaitan dengan bulan dan matahari. Sejak perjalanan malam saat terbenam dan siang saat terbitnya. Ketika beberapa orang sahabat Nabi saw mengamati keadaan bulan yang sedikit demi sedikit berubah dari sabit ke purnama, kemudian kembali menjadi sabit dan kemudian menghilang, mereka bertanya kepada Nabi, “Mengapa demikian?” Al-Qur’an pun menjawab, Yang demikian itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan menetapkan waktu ibadah haji (Al-Baqarah (2): 189)

Ayat ini memberikan indikasi bahwa peredaran matahari dan bulan yang menghasilkan pembagian yang rinci ada malam ada siang haruslah dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menyelesaikan tugas yang mempunyai nilai positif (ibadah). Sebagai mana termaktub dalam surah Al-‘Ashr (1-3). Di samping, memberikan perenungan bersama bahwa keberadaan kita di muka bumi ini tidak ubahnya seperti perjalanan melesatnya bulan. Pada mulanya tidak ada (muncul dipentas bumi), kemudian ia lahir (ada), berkembang menjadi kecil mungil bagai bulan sabit dan sedikit demi sedikit membesar sampai dewasa, sempurna umur manusia bagai bulan purnama. Lalu kembali perlahana-lahan menua, memutih, dan mengkriput sampai akhirnya hilang dari arena bumi ini.

Pergantian tahun baru miladiyah —dari 2001 menuju 2002– hendaklah dijadikan momentum yang signifikan bagaimana mengavaluasi diri (yang lebih dikenal introspeksi), tidak dipergunakan sebagai hura-hura, pesta pora, pergi ke puncak, menghambur-hamburkan uang yang tidak ada manfaatnya. Introspeksi senantiasa mengantarkan kita untuk melakukan perbaikan dan peningkatan dalam berbuat baik terhadap tuhan, manusia, hewan dan lingkungan (ibadah). Untuk itulah tidak pelak lagi bahwa waktu hendaknya dipergunakan seefektif mungkin guna memperoleh keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika waktu tidak diisi dengan hal-hal yang baik secara tidak langsung kita termasuk katagori orang yang merugi. “Sesungguhnya manusia dalam keadaan benar-benar rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan.” (Q.S. (103): 2-3) Untuk itulah Rasul menegaskan, ”Dua nikmat yang sering dan disia-siakan oleh banyak orang yaitu kesehatan dan waktu (kesempatan)”. (HR. Bukhori)

Lebih lanjut dalam sebuah riwayat Abu Dzar Al-Ghifari, Rasul (mengingatkan kita hendaknya) mengklasifikasi waktu menjadi empat bagian, ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog) dengan Tuhannya, ada juga untuk melakukan evaluasi diri (introspeksi) . Kemudian ada juga untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan ada pula yang dikhususkan untuk diri (dan keluarganya) guna memenuhi kebutuhan makan dan minum (HR. Ibnu Hibban)

Sungguh indah pengotakan waktu tersebut sehingga waktu diposisikan sedemikian berharganya. Manusia yang begitu dekat dekapannya terhadap Tuhan akan merasa enggan membuat kerusakan, merugikan orang lain, membuat kesalahan apalagi sampai menghisap kaum dhuafa/ orang miskin dan menuai nyawa tak berdosa. Fenomena yang menerpa bangsa sangat multi dimensional, kasus tabrakan Kereta Api, pertikaian bermotif SARA, rentannya disintegarasi bangsa (yang siap meladak bak mesiu kapan saja), belum tuntasnya agenda pemberantasan KKN dan banyak lagi problematika yang melanda bumi persada ini. Tentunya perlu penangan yang profesional dan pembenahan manajemen pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Al-hasil, di tahun yang baru, semangat baru, dan stamina prima diharapkan membawa perubahan ke arah efek yang lebih positif bagi perjalanan negeri yang sedang berpenyakit kronis. Semoga.