MENCARI KARYAWAN TELADAN SEJATI; Membumikannya di PT Bakrie Pipe Industries

Oleh: Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA

Cara Menjadi Karyawan Teladan“Hati adalah raja,” ujar KH. Abdullah Gymnastiar, pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung. Sebab, bila seseorang memiliki hati yang baik, maka akan baiklah perilakunya, yaitu perilaku yang dipenuhi rasa ikhlas, jujur dan disiplin. Keikhlasan adalah modal dasar kesempurnaan suatu pekerjaan. Kejujuran adalah modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi (pengabdian), dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari sebagai seorang karyawan. Dan, disiplin adalah modal dasar untuk membentuk kader-kader unggul yang selalu haus prestasi.

Di antara ketiga sifat tersebut merupakan hal yang sangat dibutuhkan dan dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari bagi karyawan teladan sejati tidak hanya dapat bermanfaat bagi diri sendiri, melainkan juga untuk orang lain dan perusahaan.. Karyawan tauladan adalah karyawan yang memberikan atau menjadi contoh terlebih dahulu dalam hal kebaikan dan semangat bekerja. Jika ingin mengubah orang lain, maka pertanyaan pertama yang harus dilakukan bagi karyawan teladan adalah sudah pantaskah kita menjadi contoh suri tauladan akhlak bagi orang lain? Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun.

Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa. Yakinlah bahwa cara paling gampang mengubah orang lain sesuai keinginan kita adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai media atau contoh yang layak ditiru. Oleh karena itu, pertanyaan yang harus selalu kita lakukan adalah sudahkah diri kita ini menjadi contoh kebaikan atau belum ?

Omong kosong kiranya menjadi karyawan teladan sejati jika kita bicara masalah disiplin atau masalah aturan, kalau ternyata kita sendiri belum membiasakan diri untuk berdisiplin atau taat aturan. Sehebat apapun kata-kata yang terlontar dari mulut ini, perilaku yang terpancar dari pribadi kita justru akan jauh berpengaruh lebih dahsyat daripada kata-kata. Ingat, jangan mimpi mengubah orang lain sebelum diawali dengan mengubah diri sendiri. Allah SWT, dengan tegas menyatakan kemurkaannya bagi orang yang menyuruh berperilaku apa-apa yang sebenarnya tidak ia lakukan. “Sungguh besar kemurkaan di sisi ALLAH bagi orang yang berkata-kata apa-apa yang tidak diperbuatnya” (QS Ash Shaaf 21 : 3).

Bukan tidak boleh berkata-kata, tapi kemuliaan akhlak pribadi karyawan teladan akan jauh lebih memperjelas kata-katanya dan bermanfaat.Lebih tegas, Covey dalam buku “The Eight Habit” menjelaskan bahwa kecerdasan yang mesti dimiliki oleh individu termasuk karyawan teladan yaitu:1. Kecerdasan fisik (Pisical Quetiont/PQ) contoh; karyawan menjaga kesehatan fisik dan disiplin dalam bekerja. 2. Kecerdasan mental/pikiran (Intelligence Quetiont /IQ) contoh; karyawan berusaha meningkatkan pengetahuannya tentang etos kerja yang baik dalam perusahaan.3. Kecerdasan emosi (Emotional Quetiont /EQ) contoh; karyawan menjaga stabilitas emosi dalam bekerja dengan saling menghargai dan menghormati antar sesama karyawan dan menjaga iklim kerja yang kondusif. 4 Kecerdasan spiritual (Spiritual Quetiont /SQ) contoh; karyawan menjaga tinggi nilai moral kejujuran dan ketaatan kepada Allah SWT.

Bahkan Ary Ginanjar menambahkan karyawan Teladan tidak hanya memiliki kecerdasan tersebut juga harus memiliki kesatuan kecerdasan emosi dan spiritual (Emotional Spiritual Quetiont /ESQ) contoh; karyawan tidak hanya berlaku baik terhadap karyawan, atasan dia juga menjaga akhlak al-karimah dengan taat beragama yang senantiasa berpikir bagaimana menjadi karyawan yang bermanfaat bagi lainnya.Dengan istilah agama karyawan teladan setidak-tidaknya berusaha mencontoh dam memiliki sifat “STAF” (siddiq (benar); tabligh (menyampaikan), amanah (jujur) dan fathonah (cerdas)) yang akan bermakna bukan hanya untuk dirinya melainkan juga bagi perkembangan sebuah perusahaan yang kita cintai yaitu PT Bakrie Pipe Industries.

Lebih jelasnya, dengan sifat-sifat tersebut dapat Membangun image Kepercayaan sebagai karyawan teladan.

Membangun kepercayaan sebagai karyawan teladan tentu perlu ada upaya untuk menumbuhkan dan memperkuat kepercayaannya masing-masing, diantaranya:

A. Kejujuran (amanah/ terpercaya)

Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas), begitu pula bila sebaliknya dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Biasakanlah selalu jujur dimulai dari hal yang paling sederhana dan kecil sekalipun.

B. Cakap (fathonah)

Komponen yang tak kalah pentingnya adalah kehandalan dan kecakapan kita dalam melaksanakan tugas. Walaupun sangat dikenal dan teruji kejujurannya tapi kalau dalam melaksanakan tugas sering berbuat lalai dan kesalahan maka hal ini pun akan merontokkan kredibilitas.1. Kunci utamanya adalah secara sadar kita harus selalu belajar, melatih diri, mengembangkan kemampuan, wawasan serta keterampilan kita secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga selalu memiliki kesiapan yang memadai untuk melaksanakan tugas. 2. Awalilah selalu dengan membuat perencanaan yang baikdan persiapan yang matang, gagal dalam merencanakan sama dengan merenacnakan kegagalan. 3. Jangan lupa selalu check and recheck, tak boleh kita melakukan sesuatu tanpa cek ulang, sangat banyak peluang kesalahan atau kegagalan yang terselamatkan dengan sikap yang selalu mengadakan pengecekan ulang. 4. Laksanakan segala sesuatu dengan kesungguhan, sikap yang hati-hati dan cermat, jangan anggap remeh kelalaian dan kecerobohan karena semua itu biang kesalahan dan kegagalan. 5. Selalu sempatkan untuk evaluasi dari setiap tahapan apapun yang kita lakukan, percayalah merenung sejenak untuk mengevaluasi membuat karya kita akan semakin bermutu. 6. Nikmatilah dengan menyempurnakan apa yang bisa dilakukan, jangan pernah puas dengan setengah-setengah, jangan pula puas dengan 90%, kalau kita bisa menyempurnakannya, mengapa tidak?

C. Inovatif (sidiq/ benar)

Benar berarti berupaya kerja yang baik tidak pernah bohong atau bolos dalam kerja. Bahkan karyawan berusaha mengembangkan kemanpuan kreatifnya melalui:1.Mengikuti pengajian2.Banyak membaca dan menulis. 3.Banyak berdiskusi dan bertanya. 4.Banyak melihat (mengadakan studi banding). 5.banyak merenung (tafakur). 6.Banyak berbuat dan mencoba. 7.Banyak beribadah dan berdo’a. D. Menyampaikan (tabligh)Tabligh berarti menyampaikan sesuatu kepada yang berhak atau melaksanakan kewajiban. Artinya, dalam bekerja karyawan teladan berupaya meningkatkan etos kerja sebagai bentuk menyampaikan atau menjalankan tugas yang telah dipercayakan kepadanya. Semaksimal mungkin.

Cara Membumikan Karyawan Teladan di BPI

Meminjam istilah AA Gym bahwa tipe karyawan ada 5 : Pengklasifikasian karyawan PT ini menggunakan istilah hukum yang digunakan dalam agama Islam. Pendekatan ini samasekali bukan untuk mencampuradukkan atau merendahkan nilai istilah hukum tersebut, melainkan hanya sekedar guna mempermudah pemahaman kita karena makna dari istilah hukum tersebut sangat sederhana dan akrab bagi kita.

Mudah-mudahan bisa jadi cara yang praktis untuk mengukur dan menilai diri sendiri.

1. Karyawan “Wajib”

Tipe karyawan wajib ini memiliki ciri : keberadaannya sangat disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan.· Dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan, wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiaan siapapun yang berjumpa dengannya. · Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan. · Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang meraskan bahagia dan senang dengan kehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya

2. Karyawan “Sunnah”

Ciri dari karyawan tipe ini adalah : kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan. Kelompok ini hampir mirip dengan sebagian yang telah diuraikan, berprestasi, etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan hanya saja ketika tiada, lingkungannya tidak merasa kehilangan, kenangannya tidak begitu mendalam.Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya dia akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama.

3. Karyawan “Mubah”

Ciri khas karyawan tipe ini adalah : ada dan tiadanya sama saja. Sungguh menyedihkan memang menjadi manusia mubadzir seperti ini, kehadirannya tak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudharat, dan kepergiannya pun tak terasa kehilangan. Karyawan tipe ini adalah orang yang tidak mempunyai motivasi, asal-asalan saja, asal kerja, asal ada, tidak memikirkan kualitas, prestasi, kemajuan, perbaikan dan hal produktiflainnya. Sehingga kehidupannya pun tidak menarik, datar-datar saja. Sungguh menyedihkan memang jika hidup yang sekali-kalinya ini tak bermakna. Harus segera dipelajari latar belakang dan penyebabnya, andaikata bisa dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa meningkat semangatnya.

4. Karyawan “Makruh”

Ciri dari karyawan dan pejabat kelompok ini adalah : adanya menimbulkan masalah tiadanya tidak menjadi masalah.Bila dia ada di kantor akan mengganggu kinerja dan suasana walaupun tidak sampai menimbulkan kerugian besar, setidaknya membuat suasana tidak nyaman dan kenyamanan kerjaserta kinerja yang baik dapat terwujud bila ia tidak ada.Misalkan dari penampilan dan kebersihan badannya mengganggu, kalau bicara banyak kesia-siaan, kalau diberi tugas dan pekerjaan selain tidak tuntas, tidak memuaskan juga mengganggu kinerja karyawan lainnya.

5. Karyawan “Haram”

Ciri khas dari kelompok ini adalah : kehadirannya sangat merugikan dan ketiadaannya sangat diharapkan karena menguntungkan.Orang tipe ini adalah manusia termalang dan terhina karena sangat dirindukan “ketiadaannya”. Tentu saja semua ini adalah karena buah perilakunya sendiri, tiada perbuatan yang tidak kembali kepada dirinya sendiri.Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar. Sering memfinah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak, sangat tidak disiplin, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah. Pendek kata di adalah “trouble maker”.

Istilah membumikan berarti dapat dikerjakan atau dapat dilaksanakan oleh setiap karyawan tidak sebaliknya melangit atau hanya sekedar dalam tataran ide atau konsep (angan-angan/hayalan semata).

Untuk membumikan atau merealisasikan karyawan teladan sejati dari lima tipe karyawan tersebut tentunya setiap karyawan harus berusaha semaksimal mungkin menjadi tipe karyawan wajib yang mesti dimiliki oleh para calon karyawan teladan sejati PT BPI. Sebab keberadaan tipe ini sangat disukai, dibutuhkan, sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan. Dengan kata lain tipe karyawan ini memang sesuai dengan tipe karyawan ideal bagi PT BPI di mana karyawan tersebut berprestasi, etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan, wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiaan siapapun yang berjumpa dengannya. Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan. Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang meraskan bahagia dan senang dengan kehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya.

Semoga, kita termasuk kedalam tipe karyawan pertama ini yang dapat bermanfaat bagi dunia dan akhirat nanti. Siapapun dapat menjadi karyawan teladan sejati? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing, maukah kita maju sebagai karyawan teladan sejati di BPI.

Kendala-kendala dan Penyelesaiannya menjadi Karyawan Teladan

Siapa pun yang bercita-cita besar menjadi karyawan teladan, rahasianya adalah berupaya melakukan latihan asah dan meningkatkan kecerdasan yang dimilikinya yaitu kecerdasan fisik, kecerdasan intelek, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Semua kecerdasan itu, bermuara dari keingingan diri sendiri. Kendala yang sangat berpengaruh adalah komitmen setiap diri untuk maju dan berubah. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita. Itulah salah satu kendala yang mesti diselesaikan oleh setiap calon karyawan teladan.Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas bagi orang lain dan perusahaan.

Karyawan teladan mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian mengubah prilaku yang tidak baik menjadi baik dan mulia. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik karyawan teladan sejati yang sukses.Karyawan teladan bukanlah karyawan yang “omdo” (omong doing) atau Nato (not action talking only; tidak kerja hanya ngomong). Jangan terlalu banyak bicara dan meyalahkan orang lain. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, disiplin dan jujur, dan ibadah kian tangguh. Disamping itu, karyawan teladan hendaknya memiliki hati yang bersih dan memiliki program kerja yang jelas guna menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, diantara program yang bisa dilakukan karyawan teladan untuk menggapai hidup indah dan prestatif dengan bening hati adalah :1. Merasa haus mencari Ilmu di mana saja berada (terutama sesuai keahlian)2. Riyadhah atau Melatih Diri (kemampuan/skill)

Hal-hal yang Perlu dilakukan Karyawan teladan Untuk melakukan perubahan dengan menilai kekurangan atau keburukan diri.

Patut diketahui bahwa bagaimana mungkin karyawan akan mengubah diri kalau karyawan tidak tahu apa-apa yang harus diubah, bagaimana mungkin karyawan memperbaiki diri kalau tidak tahu apa yang harus diperbaiki. Maka hal pertama yang harus karyawan lakukan adalah dengan bersungguh-sungguh untuk belajar jujur mengenal diri sendiri, dengan cara

1. Memiliki waktu khusus untuk tafakur (merenung). Setiap ba’da shalat kita harus mulai berpikir; saya ini sombong atau tidak? Apakah saya ini riya atau tidak? Apakah saya ini orangnya takabur atau tidak? Apakah saya ini pendengki atau bukan? Belajarlah sekuat tenaga untuk mengetahui diri ini sebenarnya. Kalau perlu buat catatan khusus tentang kekurangan-kekurangan diri kita, (tentu saja tidak perlu kita beberkan pada orang lain). Ketahuilah bahwa kejujuran pada diri ini merupakan modal yang teramat penting sebagai langkah awal kita untuk memperbaiki diri kita ini

2. Memiliki partner. Kawan sejati yang memiliki komitmen untuk saling mengkoreksi semata-mata untuk kebaikan bersama yang memiliki komitmen untuk saling mewangikan, mengharumkan, memajukan, dan diantaranya menjadi cermin bagi satu yang lainnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tentu saja dengan niat dan cara yang benar, jangan sampai malah saling membeberkan aib yang akhirnya terjerumus pada fitnah. Partner ini bisa istri, suami, adik, kakak, atau kawan-kawan lain yang memiliki tekad yang sama untuk mensucikan diri. Buatlah prosedur yang baik, jadwal berkala, sehingga selain mendapatkan masukan yang berharga tentang diri ini dari partner kita, kita juga bisa menikmati proses ini secara wajar.

3. Mamfaatkan orang yang tidak menyukai kita. Mengapa? Tiada lain karena orang yang membenci kita ternyata memiliki kesungguhan yang lebih dibanding orang yang lain dalam menilai, memperhatikan, mengamati, khususnya dalam hal kekurangan diri. Hadapi mereka dengan kepala dingin, tenang, tanpa sikap yang berlebihan. Anggaplah mereka sebagai aset karunia Allah yang perlu kita optimalkan keberadannya. Karenanya, jadikan apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka lakukan, menjadi bahan perenungan, bahan untuk ditafakuri, bahan untuk dimaafkan, dan bahan untuk berlapang hati dengan membalasnya justru oleh aneka kebaikan. Sungguh tidak pernah rugi orang lain berbuat jelek kepada diri kita. Kerugian adalah ketika kita berbuat kejelekkan kepada orang lan.

4. Tafakuri kejadian yang ada di sekitar kita.Kejadian di negara, tingkah polah para pengelola negara, akhlak pipmpinan negara, atau tokoh apapun dan siapa pun di negeri ini. Begitu banyak yang dapat kita pelajari dan tafakuri dari mereka, baik dalam hal kebaikan ataupun kejelekkan/kesalahan (tentu untuk kita hindari kejelekkan/kesalahan serupa). Selain itu, dari orang-orang yang ada di sekitar kita, seperti teman, tetangga, atau tamu, yang mereka itu merupakan bahan untuk ditafakuri. Mana yang menyentuh hati, kita menaruh rasa hormat, kagum, kepada mereka. Mana yang akan melukai hati, mendera perasaan, mencabik qalbu, karena itu juga bisa jadi bahan contoh, bahan perhatian, lalu tanyalah pada diri kita, mirip yang mana? Tidak usah kita mencemooh orang lain, tapi tafakuri perilaku orang lain tersebut dan cocokkan dengan keadaan kita. Ubahlah sesuatu yang dianggap melukai, seperti yang kita rasakan, kepada sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang dianggap mengagumkan, kepada perilaku kita spereti yang kita kagumi tersebut. Mudah-mudahan dengan riyadhah tahap awal ini kita mulai mengenal, siapa sebenarnya diri kita?

Kesimpulan:

Dari penjelasan tersebut, penulis menyimpulkan untuk menjadi karyawan teladan dibutuhkan dari kemauan kuat diri sendiri untuk maju, dengan berupaya meningkatkan kecerdasan fisik, kecerdasan intelek, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual yang dapat menciptakan karyawan tersebut bekerja secara optimal dalam menggapai kebahagiaan atau kesuksesan tidak hanya di dunia melainkan juga di akhirat dengan menjalankan konsep STAF (siddiq, tabligh, amanah dan fathonah) yang mudah-mudahan menjadi karyawan yang dapat bermanfaat bagi dirinya, karyawan lainnya, perusahaan BPI dan agama. Sebab, dengan sensor agama dapat meningkatkan etos kerja dan disiplin yang baik. Karyawan teladan sejati juga akan enggan berbohong, atau berlaku tidak jujur sebab dapat merugikan dirinya masing-masing. Waallahu A’lam.

Referensi:

Muhammad Zen, MA, Zakat & Wirausaha, (CED, Jakarta, 2005)

KH. Abdullah Gymnastiar, Jurnal Manajemen Qalbu, 2005 Stephen Covey, Delapan Kebiasaan, (Gramedia, Jakarta, 2005)

Bekasi, 21 Mei 2007