PENYUCIAN JIWA

Oleh: Muhammad Zen El-Bekasy* 

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. 92. 9-10)

 

            Ayat di atas menjelaskan bahwa menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs) merupakan resep  kunci menuju kebahagiaan hidup. Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki cipta, karsa dan rasa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tak terelakkan adanya kesalahan (sengaja atau tak sengaja). Pada zaman Nabi, orang-orang yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik sebagai upaya menyucikan dirinya –menghindari kesalahan atau dosa– biasanya berpakaian sederhana terbuat dari wol yang sangat kasar. Demikian halnya semasa dinasti Abbasiyah berkuasa di Bagdad,  banyak yang berdoyong-doyong  menjauhkan diri dari keduniaan dan menjadi zahid. Mereka berusaha keras memerangi nafsu-nafsu yang tidak baik dalam diri mereka. Kesadaran telah terpatri dalam dada mereka, tidak ada manusia yang tidak berbuat kehilafan. Sehingga keengganan merealisasikan kebahagiaan dunia dinafikan, kehidupan akhirat  ansich yang dikejar-kejar.

 

            Konteks menyucikan jiwa saat sekarang bukan berarti  meninggalkan kehidupan dunia, sebaliknya memadukan antara menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Jalaluddin ar-Rumi, sufi ternama, menganjurkan agar orang selalu bekerja, berusaha dan berjuang. Umat Islam diperkenankan untuk menjadi seorang jutawan. Sesuai ungkapan Rasulullah Saw., “Alangkah bagusnya harta yang baik di tangan hamba yang shalih”. Sikap apatis orang-orang yang shalih dalam menghadapi hidup di dunia ini akan  mengakibatkan timbulnya dominasi kepemimpinan orang-orang fasik dan dhalim.

 

Pemimpin negara akan dimintai pertanggung-jawabannya atas segala apa yang diperbuatnya. Untuk menyucikan jiwa dalam berbangsa dan bernegara di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, pemimpin hendaknya menyucikan diri dan kabinetnya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan bangsa dan negara (melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme). Di samping tidak mengulangi kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan pemimpin-pemimpin pendahulu negri ini sebagai upaya jera untuk membuat kesalahan tersebut (taubat). Merealisasikan program –amar ma’ruf nahi munkar– dalam memajukan bangsa dan negara sangat dinanti jutaan rakyat.

 Tegaknya supremasi hukum, kerukunan, kedamaian dan terjaganya integrasi bangsa menjadi keharusan mutlak. Di samping problem riil yang dihadapi rakyat Indonesia, pemerintah hendaknya memperhatikan terhadap daerah-daerah gempa bumi, peledakan bom dan  pengungsian akibat kerusuhan menjadi prioritas utama. Menuju negeri yang baldatun toyyibatun warabbun ghofur. “Usahakanlah hal ini, lalu pasrahkan kepada Allah (tawakkal)”.(al-Hadits)