PESAN MORAL BERKORBAN[*] 

Mengatasi Konflik dengan Pendekatan Manajemen Qalbu

Oleh: Muhammad Zen HS

 

Kaum muslimin rahima kumullah

            Marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dengan cara meningkatkan amal kebaikan, menjalani segala apa yang diperintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Sebab dengan cara demikian, hidup kita di dunia ini akan mempunyai arti atau makna sehingga selamat di dunia sampai di negeri akhirat.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

            Baru saja kita telah melaksanakan hari raya Idul Adha, yang disertai dengan melaksanakan ibadah Qurban yang pelaksanaan ibadah qurban tersebut telah diatur dalam ajaran Islam sedemikian rupa yaitu pada hari raya Idul Adha sampai tiga hari sesudahnya. Tepatnya berakhir pada saat maghrib hari ketiga belas Dzul-hijjah  yang lebih dikenal masa berakhirnya hari  tasyriq. Keterangan tersebut bisa kita lihat dari berbagai hadis yang diriwayatkan oleh Imam  Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya.

 

Kaum musilimin rahimakumullah

            Dalam pelaksanaan ibadah qurban, kita bisa memetik hikmah atau pesan moral yang terkandung didalam pelaksanaan ibadah qurban tersebut, yaitu :

1. Ibadah qurban merupakan apresiasi sejarah kehidupan manusia, ditandai sebagai wujud adanya pengabdian dan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT semata. Hal tersebut dibuktikan oleh Bapak para Nabi, yaitu Ibrahim as untuk mengorbankan anak terkasih, ismail, yang sekian puluh tahun diidam-idamkan kehadirannya. Akan tetapi, setelah lahir dan menjelang dewasa Allah menguji Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya (Ismail).

2. Dengan membagikan daging Qurban kepada para faqir/ miskin merupakan sebagai syi’ar agama Islam  dan sebagai wujud solideritas sosial. Yang terpenting dari hikmah tersebut  mengajarkan kepada kita untuk hidup di dunia bagaimana bisa hidup rukun, berdampingan, tentram dan penuh kedamaian. Sebagai hal yang konkret sebagai contoh yaitu tidak menganiaya sesama manusia.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

            Alangkah indahnya jika kehidupan di dunia ini adanya kedamaian, kesejahteraan dan kesentosaan. Untuk mencapai hidup tentram sejahtera bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab masing-masing orang mempunyai berbagai kepentingan  dan ambisi, dapat kita saksikan sekarang dalam peristiwa yang ada di negeri tercinta ini manusia bertindak dibatas nilai-nilai kemanusiaan. Mereka saling tindas-menindas, saling tuduh-menuduh yang lebih parah lagi yaitu saling bunuh-membunuh. Seolah-olah nyawa manusia tidak berharga sama sekali, peristiwa tersebut bisa kita lihat dalam kasat mata kita sendiri. Peristiwa pertikaian antar etnis yang terjadi belakangan ini di Sampit Kalimatan Tengah. Sampit salah adalah satu contoh yang mewakili dari berbagai peristiwa yang ada di negeri tercinta ini.

 

            Kata kunci yang terpenting untuk mengatasi hal tersebut, Islam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantisa tidak berbuat zalim atau aniaya, apalagi sampai merampas nyawa orang lain. Sebab perbuatan zalim tersebut akan menimbulkan ketidaktentraman dan ketidaknyamanan  hidup di muka bumi ini. Perbuatan zalim jika dilakukan oleh seorang kepala negara kepada rakyatnya, maka rakyat akan menjadi sengsara. Bahkan akan menyebabkan terjadinya pemberontakan, demonstrasi dan ketidakpuasan lainnya. Jika yang berbuat zalim adalah pemimpin terhadap anak buahnya, maka akan timbul ketidaktentraman dalam suasana kerja di lingkungannya itu. Demikian juga jika yang melakukan perbuatan zalim dilakukan oleh kepala keluarga kepada anak dan isterinya atau orang-orang yang menjadi tanggung-jawabnya, maka akan timbul ketidak-harmonisan dalam berkeluarga. Singkatnya bahwa perbuatan zalim (aniaya) akan menimbulkan malapetaka atau marabahaya.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Allah SWT secara tegas melarang agar kita tidak berbuat zalim sebaga mana firman-Nya :

 

  لاَ تَظْلِمُوْنَ َولاَ تُظْلَمُوْنَ (البقرة: 279)

“ Janganlah kamu berbuat zalim dan janganlah pula (bersedia) dizalimi” (al-Baqarah:279)

           

 Di dalam hadis, rasulullah bersabda:

اِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jauhilah perbuatan zalim, karena sesungguhnya zalim itu akan menimbulkan kegelapan pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Tabrani dan baihaqi)

 

            Mengenai perbuatan zalim Syeikh Abul A’la Al-Maududi, beliau membaginya menjadi tiga katagori:1. Zalim Terhadap Allah

            Zalim terhadap Allah, berarti tidak mau menjalankan semua yang diperintah-Nya, dan bahkan melanggar larangan-larangan-Nya. Sebab Allah telah  memberi segala keperluan hidup manusia seperti makan, minum sandang dan papan serta segala keperluan lainnya dengan gratis. Tetapi mengapa hanya beribadah sebentar saja tidak mau, bukankanh itu termasuk zalim?

 2. Zalim Kepada Diri Sendiri

            Tiap-tiap orang mempunyai hak-hak pribadi yang harus dipeliharanya sendiri, dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya. Apabila hak-hak dan kewajiban pribadi tidak dipelihara atau dilaksanakan, maka hal itu berarti merusak diri sendiri. Kelak di akhirat, antara tubuh dan diri seseorang akan terjadi  saling protes. Karena tubuh manusia itu penuh maksiat.  (lihat surat yasin: 65)

 3. Zalim Terhadap Makhluk           

Zalim terhadap orang lain, misalnya menyakitinya, merampas hartanya, dan merampas hak orang lain, serta berlaku sewenang-wenang bahkan sampai membunuh orang lain.  Perbuatan tersebut sungguh sangat berat siksanya di akhirat kelak.. Sebagai mana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mu’min, ayat:18

مَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ حَمِيْمٍ وَلآ شَفِيْعٍ يُطَاعٌ

Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seseorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafaatnya”  

 Kaum muslimin rahimakumullah

            Perbuatan zalim atau aniaya, siapa pun yang malakukannya, pasti akan menimbulkan malapetaka. Apakah itu secara pribadi, keluarga, kelompok masyarakat atau negara, sudah menjadi hukum alam, pastilah perbuatan zalim akan menimbulkan keresahan, kekacauan dan ketidak-tentraman. Sejarah telah membuktikan perbuatan zalim pasti akan dihancurkan oleh Allah SWT. Sebagai mana Firman-Nya:

 وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُوْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوْا وَجَآءَتْهُمْ رُسُلُهُْم بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ  

“Dan sesungguhnya telah Kami binasakan beberapa kaum sebelum kamu tatkala mereka berlaku zalim, dan telah datang kepada mereka rasul-rasul (membawa) keterangan-keterangan, tetapi mereka tidak percaya. Demikianlah Kami balas terhadapa kaum yang merusak itu” (Yunus: 13)

 

            Demikianlah yang dapat khatib sampaikan pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan Allah SWT selalu menjaga diri kita dari perbuatan zalim dan mengarahkannya menuju jalan yang diridhai-Nya. Dan kita berdoa bersama-sama mudah-mudahan bangsa Indonesia ini mampu mengatasi kemelut dan problem-problem yang ada di dalamnya baik penngan kasus Sampit dan sebagainya dengan harapan integrasi bangsa tidak ternodai, sehinggga rasa aman, damai, tentram, dan sejahtera akan mudah digapai dengan kata lain tercipta negara yang baldatun tayyibatun warabbun gafur.  Waallahu a’lam

   


[*] Disampaikan dalam Khutbah Jum’at tanggal 9 Maret 2001 di Masjid Jami Al-Ikhlas Rawa Pasung Bekasi