Fitna Menguji Emosi Umat Islam

AHMAD MUNJIN

INILAH.COM, Jakarta – Film berdurasi 15 menit itu memicu kemarahan umat Islam. Geer Wilders, pembuatnya, seperti tak pernah berkaca pada pengalaman yang sudah-sudah.

Lewat media internet, film Fitna harapan politisi Belanda itu mencuat ke dunia tanpa sekat ruang dan waktu. Isinya menyudutkan umat Islam dan ajarannya. Bahwa umat Islam adalah teroris dan Al-Quran sebuah kitab suci yang rasial.

Padahal, masih segar dalam ingatan umat Islam, ketika di sejumlah negara muslim, termasuk Indonesia, terjadi protes yang cukup masif sebagai reaksi terhadap kartun Nabi Muhammad SAW yang diidentikkan dengan teroris dalam sebuah majalah di Denmark.

Lalu protes masif itu terjadi lagi, menyusul pernyataan Paus Benediktus XVI mengenai Islam yang disamakan dengan kekerasan dalam pidatonya di Universitas Regensburg, Jerman.

Wilders tentu saja sengaja membuat film itu. Ia juga sadar, filmnya akan membangkitkan ketegangan antarumat manusia dan agama yang tak terhindarkan lagi. Kini tinggal umat Islam sendiri, terpancing atau tidak. Ini juga menguji kedewasaan keberagamaan umat Islam.

Fitna, yang berdurasi sekitar seperempat jam, berisi kompilasi potongan adegan kekerasan, antara lain teror 11 September dan pemenggalan kepala seorang sandera kelompok tertentu yang oleh pembuatnya dikaitkan dengan Islam. Film ini juga mengutip potongan ayat-ayat Al-Quran yang oleh Wilders dianggap menyarankan kekerasan dan terorisme.

Sebelum film itu ditayangkan lewat internet, Wilders sudah kesulitan memutar Fitna di negerinya sendiri, Belanda. Anggota parlemen dari Partai Kebebasan ini tak berhasil membujuk pengelola stasiun televisi setempat memutar filmnya. Pemerintah Belanda pun sudah mendesak agar dia tak meneruskan rencananya. Bahkan, ketika film ini direncanakan untuk ikut sebuah festival, pemerintah Belanda melarangnya.

Tapi, akhirnya, situs http://www.lifeleak.com bersedia menayangkan film kontroversial itu. Sejak itu pula, Fitna dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Memang perlu diakui dengan penuh kejujuran bahwa dalam Islam, dan juga agama lain, secara normatif dan positif (sosiologis) ada potensi kekerasan. Tapi, jangan lupa, Islam juga memiliki embrio-embrio perdamaian sejati.

Meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya, Psikologi Agama (2003), agama memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan supertisi; menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri rohani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.

Kendati agama memiliki dua dimensi yang bertentangan, tidak lantas dapat diinterpretasikan secara tekstual dengan melepaskan konteksnya. Kearifan ini harus dimiliki oleh pemuka-pemuka agama dan politisi termasuk Wilders.

Wilders tampaknya memang secara terbuka menginginkan peperangan. Agamalah satu-satunya faktor yang sangat sensitif untuk dijadikan bahan bakar perang.

Faktor ini terbukti ketika kecaman terhadap Fitna menyeruak. Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengecam pemutaran film anti-Islam garapan anggota parlemen Belanda ini.

“Saya mengecam keras pemutaran film yang menyerang Islam tersebut. Ucapan-ucapan yang menimbulkan kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan tidak bisa diterima,” kata Ban Ki-moon dalam pernyataan pers PBB yang dikeluarkan di New York, Jumat (28/03).

Karena itu, memang mudah ditebak, reaksi keras segera bermunculan dari dunia Islam. Kecaman datang, antara lain, dari Bangladesh dan Iran. Negeri para mullah ini bahkan mengancam akan memutus hubungan diplomatiknya dengan Belanda.

Namun, di atas semua itu, sebelum kerugian besar terjadi, sebagai implikasi dari Fitna itu, umat Islam di dunia dan Indonesia tentunya harus mengedepankan sikap yang lebih rasional ketimbang emosional. Selain itu, para tokoh agama Islam bersama-sama dengan agama lain mesti segera melakukan dialog secara terbuka, penuh kejujuran, dan saling menghargai agar bisa meredam perasaan emosi umat Islam yang sedang tersinggung.

Pasalnya, jika yang dilakukan kaum muslimin adalah sifat emosional dan reaksioner, justru inilah yang akan lebih menegaskan dan membenarkan, Islam memang agama teroris. Dengan Fitna ini, Barat justru akan mengetahui peta radikalisme Islam dengan niscaya. Peta ini tentunya satu paket dengan perang Amerika Serikat terhadap terorisme.

Inilah keadaan paling buruk jika umat Islam tidak bersikap dewasa dalam merespons setiap polemik yang terjadi antara Islam dan negara lain.

Meski umat Islam terus-terusan digempur dengan tuduhan teroris dan rasialisme, umat Muhammad harus tetap mengedepankan sisi-sisi perdamaian dari agama dan tidak mudah terpancing dengan pihak-pihak yang memperuncing aspek kekerasan dalam agama. Karena ini adalah batu ujian bagi emosi umat Islam itu sendiri. [I4]

Sumber: http://www.inilah.com/berita.php?id=20470