By Republika Contributor

Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 09:43:00

JAKARTA — Direktur Bank Muamalat U Saefudin Noer, Rabu, mengungkapkan bahwa “Islamic Economic” dapat dijadikan model baru untuk mengatasi “bublle” ekonomi yang terjadi saat ini.

“Banyak negara saat ini melihat sistem ekonomi Islam untuk dijadikan referensi untuk mengatasi ‘gelembung atau bublle’ yang terjadi saat ini,” kata Saefudin, saat berbicara dengan ANTARA di Jakarta, Rabu.

Beberapa negara sudah mulai mengembangkan ekonomi Islam, seperti Hongkong dengan mengembangkan “Islamic Economic Center”, ungkapnya.

Salah satu penyebab permasalahan krisis keuangan yang melanda Amerika adalah berkaitan dengan industri “subprime mortgage” (KPR Subprima).

Dia juga menyebutkan bahwa permasalahan krisis yang melanda ekonomi dunia saat ini, bukan hanya diakibatkan sistem kapitalisme yang diragukan kemampuannya dalam mewujudkan kesejahteraan dunia, tetapi juga diakibatkan oleh berubahnya etika moral para pelaku dunia keuangan.

Para pelaku ekonomi gaya kapitalis ini lebih cenderung melakukan rekayasa produk spekulasi untuk mencari keuntungan yang cenderung rakus (greedy), kata Saefudin.

Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya.

Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga, maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil.

Selain itu, Saefudin juga mengungkapkan bahwa perbankan syariah juga pro sektor riil, sehingga mendorong ekonomi negara bergerak, sehingga bisa menyelamatkan dari krisis.

Konsep bagi hasil yang diterapkan bank syariah adalah menginvestasikan dana nasabah di bank terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan.

Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya, katanya.

Perbankan Syariah di Indonesia

Perbankan syariah di Indonesia yang muncul pertama kali adalah PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang berdiri pada 1992 ini merupakan yang tidak mendapat suntikan dana pemerintah saat krisis 1998 lalu.

Pengalaman itu dapat dijadikan bukti bahwa sistem ekonomi Islam yang diterapkan dalam BMI bisa selamat dari krisis yang terjadi di sektor industri perbankan, jelasnya.

“Pada saat krisis 1998 lalu perbankan Indonesia telah menaikkan suku bunganya yang tinggi, sehingga yang terjadi adalah negatif margin karena perbankan tidak bisa menyalurkan kredit kembali dan timbul kredit macet,” jelasnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan bank syariah di Indonesia sangat pesat, namun “size”nya masih kecil. “Pertumbuhan bank syariah sebesar 60 persen tahun lalu, memang bank syariah asetnya masih sekitar 2-3 persen dibanding bank konvesional,” jelasnya.

Sedangkan pasar bank syariah sendiri, BMI telah menguasai 35 persen pangsa pasarnya, dengan transaksi paling besar dari sistem traksaksi Murabahah (Jual-beli), diikuti oleh sistem transaksi mudharabah (bagi hasil) dan sistem transaksi Ijarah (sewa).

Tantangan yang dihadapi bank syariah di Indonesia saat ini perlunya modal yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya, sumber daya manusia yang belum mampu mengimbangi pertumbuhannya dan jaringan kantor.

Saefudin juga mengungkapkan bahwa bank syariah tidak akan melakukan pendanaan besar-besaran disaat bank konvensional sedang melakukan pengetatan likuiditas akibat krisis saat ini. “Kita memang tidak akan menghentikan pendanaan, namun perlu ditingkatkan sistem prudential (kehati-hatian) dalam penyaluran dana,” jelasnya. -ant/ah