Agustus 2009


 

Yusuf Wibisono

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEUI

 

Ramadhan adalah momentum besar tahunan umat Islam untuk melakukan perbaikan diri baik secara moral, spiritual maupun material. Peningkatan kualitas diri secara moral dan spiritual melalui Ramadhan, telah lama dan banyak dibahas. Namun perbaikan kualitas diri secara material, tidak banyak mendapat perhatian. Tulisan ini akan menganalisis aspek ekonomi dari Ramadhan.

 

Konsumsi dan Pengeluaran Agregat

Ibadah terpenting di bulan Ramadhan adalah ibadah puasa. Puasa secara langsung akan merubah pola konsumsi umat muslim, yaitu turunnya konsumsi individu yang berpuasa. Secara makro, hal ini akan menurunkan konsumsi agregat, khususnya barang kebutuhan pokok. Di saat yang sama, di bulan Ramadhan terdapat anjuran yang sangat kuat untuk berderma, seperti memberi makan orang yang berbuka puasa. Hasil akhirnya adalah terjadi efek saling meniadakan, konsumsi orang kaya menurun, konsumsi orang miskin meningkat.

Dengan demikian, tujuan akhir yang ingin dicapai Ramadhan adalah pemerataan konsumsi melalui consumption- transfer dari kelompok kaya ke kelompok miskin sehingga proporsi konsumsi kelompok miskin dalam konsumsi agregat akan meningkat. Dengan demikian, tidak akan ada tekanan permintaan yang mendorong kenaikan harga-harga (demand-pull inflation). Distribusi konsumsi yang lebih merata, akan menekan masalah-masalah sosial di masyarakat seperti kelaparan ekstrim, kurang gizi dan gizi buruk pada anak, minimnya akses terhadap air bersih, menurunnya tingkat kematian bayi, hingga meningkatkan kohesi sosial.

Namun yang kita saksikan hari ini sangat jauh dari idealita. Konsumsi kelompok kaya tidak menurun, bahkan meningkat pesat. Akibatnya, terjadi kenaikan permintaan barang dan jasa secara signifikan sehingga mendorong inflasi. Dan yang paling keras terpukul oleh kenaikan harga ini jelas adalah kelompok miskin. Transfer konsumsi dari kelompok kaya ke kelompok miskin juga tidak berjalan mulus. Alih-alih meningkat, proporsi konsumsi kelompok miskin justru menurun tergerus oleh inflasi.

Lebih jauh lagi, selama bulan Ramadhan umat muslim juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, konsumsi kelompok kaya yang umumnya merupakan konsumsi barang non-primer akan menurun. Ramadhan juga akan mendorong aktivitas konsumsi yang berbasis moral dan etika seperti makanan dan minuman halal, busana muslim, perlengkapan ibadah, dan lain-lain. Hal ini akan mendorong konsumsi yang lebih berkualitas melalui consumption- switching dari konsumsi barang-barang mewah dan tidak ber-etika ke barang-barang primer dan berbasis etika.

Namun sekali lagi kita menyaksikan hal yang jauh dari ideal. Konsumsi non-primer masyarakat muslim terlihat tidak menurun, bahkan meningkat. Pusat-pusat perbelanjaan justru semakin dipadati pengunjung, tempat-tempat wisata dan hiburan tidak menjadi sepi. Aktivitas TV justru meningkat menjadi 24 jam di bulan Ramadhan, yang isi dan kualitas tayangannya secara ironis justru jauh dari semangat Ramadhan. Hasrat konsumerisme berbalut ritual artifisial justru semakin dikobarkan di bulan suci.

 

Pengentasan Kemiskinan dan Efisiensi Alokatif

Aktvitas lain yang sangat didorong di bulan Ramadhan adalah sedekah. Sedekah adalah bentuk pengakuan paling mendasar atas konsep istikhlaf (perwakilan) ; bahwa pada esensi-nya seluruh harta adalah milik Allah (QS 10: 66). Terinternalisasi- nya konsep istikhlaf ini secara kuat akan menekan aktivitas penimbunan harta, perlombaan dalam mengejar kekayaan, kejahatan ekonomi, dan kesenjangan sosial.

Secara umum terdapat dua jenis sedekah, yaitu sedekah wajib dan sedekah sunnah. Sedekah wajib adalah zakat, yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat maal (harta). Sedangkan sedekah sunnah memiliki banyak bentuk mulai dari infaq, sedekah jariyah, dan wakaf hingga sumbangan tenaga dan pemikiran. Filantropi Islam, berbeda dengan filantropi konvensional, berakar dari kepercayaan terhadap Tuhan yang menciptakan bumi dan langit serta seluruh isinya untuk kepentingan semua manusia. Filantropi Islam bernilai transendental tinggi, tidak akan menjadi sarana pencucian dosa atau tameng dari agenda tersembunyi, dan bukan kegiatan insidental.

Filantropi Islam memiliki peran penting dalam perekonomian. Peran penting pertama terkait pengentasan kemiskinan. Instrument filantropi Islam adalah mekanisme transfer dari kelompok kaya ke kelompok miskin yang tepat sasaran. Di saat yang sama, instrument filantropi Islam telah berperan sebagai jaring pengaman sosial yang efektif.

Dengan adanya transfer pendapatan dari kelompok kaya ke kelompok miskin maka akan terjadi peningkatan permintaan barang dan jasa dari kelompok miskin, yang umumnya adalah kebutuhan dasar. Permintaan yang lebih tinggi untuk kebutuhan dasar masyarakat terkait filantropi Islam ini, akan mempengaruhi komposisi produksi barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian, sehingga akan membawa pada alokasi sumber daya menuju ke sektor-sektor yang lebih diinginkan secara sosial. Hal ini akan meningkatkan efisiensi alokatif dalam perekonomian.

Dalam perekonomian yang tidak memiliki mekanisme transfer pendapatan dan sebagian besar penduduknya adalah miskin, maka kebutuhan riil masyarakat sering tidak tercermin dalam permintaan pasar. Barang dan jasa yang amat dibutuhkan rakyat banyak, seperti pangan, papan, air bersih, kesehatan dan pendidikan, seringkali tidak diproduksi. Dengan instrument filantropi yang mentransfer pendapatan orang kaya ke orang miskin, maka permintaan barang dan jasa orang miskin akan meningkat. Dalam konteks ini kita dapat memandang fungsi alokatif filantropi Islam yang me-realokasi sumber daya dari orang kaya ke orang miskin ini, sebagai cara yang efektif untuk memerangi kemiskinan.

            Di Indonesia, potensi filantropi Islam yang sangat besar, belum mampu mengangkat kelompok miskin keluar dari jurang kemiskinan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perilaku penderma yang masih amat karikatif, yaitu berorientasi jangka pendek, de-sentralistis dan interpersonal. Filantropi sering dilakukan dalam bentuk konsumtif, dilakukan secara individual, dan tidak terorganisir.

            Dibutuhkan upaya revitalisasi dengan menggugah kesadaran dan sekaligus merubah perilaku penderma. Menggugah kesadaran ummat sangat penting karena sampai kini terdapat kesenjangan yang besar antara potensi dengan realisasi dana filantropi Islam. Selain itu dibutuhkan rekontruksi paradigma sedekah dari sedekah personal-jangka pendek yang bersifat karikatif menjadi sedekah institusional- jangka panjang yang lebih bersifat pemberdayaan. Upaya penting lainnya adalah meningkatkan kapasitas lembaga amil dan pengelola dana filantropi Islam. Selain untuk meningkatkan efektifititas pendayagunaan dana filantropi Islam, hal ini juga penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola dana filantropi.

 

IPTEK dan Produktivitas

Salah satu aktivitas lain yang banyak dianjurkan di bulan Ramadhan adalah aktivitas menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat. Ramadhan adalah momentum bagi umat Islam untuk memperdalam ilmu, menyebarluaskan- nya dan mengembangkan- nya. Hal ini sangat relevan di tengah kecenderungan perekonomian yang saat ini semakin bergeser ke keunggulan berbasis pengetahuan (knowledge economy).

            Ilmu dan teknologi adalah satu-satunya sumber produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Perekonomian- perekonomian maju umumnya tumbuh tinggi dan berkesinambungan dengan membuat teknologi berkembang secara built-in dan sistemik dalam perekonomian (endogenous growth). Hal ini dilakukan antara lain melalui pengembangan sektor pendidikan, belanja R & D yang memadai, penghargaan dan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, link and match antara pendidikan, riset dan industri, dan lain-lain.

            Romer (1993) memperluas definisi teknologi menjadi apa yang ia sebut sebagai “ideas”. Teknologi seringkali kita bayangkan dengan manufaktur, padahal kebanyakan aktivitas ekonomi terjadi di luar pabrik-pabrik. Ide-ide (ideas) mencakup perspektif tak terbatas tentang pengemasan barang, pemasaran, distribusi, pengawasan persediaan barang, sistem pembayaran, sistem informasi, proses transaksi, pengawasan kualitas, dan memotivasi pekerja, semuanya digunakan dalam proses produksi untuk menciptakan nilai ekonomi dalam perekonomian modern.

            Pengembangan ilmu agama juga berpengaruh signifikan bagi perekonomian.  Peningkatan iman dan taqwa, sebagai hasil menuntut ilmu agama, akan memberi dampak signifikan terhadap hakikat, kuantitas, dan kualitas kebutuhan material dan non-material manusia beserta cara pemuasannya. Iman dan taqwa juga berfungsi sebagai filter moral yang akan mengkontrol self-interest dalam batas-batas social-interest. Filter iman dan taqwa ini menyerang langsung pusat masalah dalam perekonomian konvensional yaitu klaim yang tidak terbatas terhadap sumber daya (unlimited wants) dengan cara mengubah perilaku manusia dan skala preferensi-nya agar selaras dengan tujuan-tujuan normatif perekonomian.  Pemahaman yang lebih baik terhadap nilai dan ajaran agama juga akan berpengaruh signifikan terhadap variabel-variabel ekonomi yang penting seperti konsumsi, tabungan dan investasi, lapangan kerja dan produksi, serta distribusi pendapatan.

            Dengan demikian, Ramadhan semestinya menjadi ajang evaluasi sektor pendidikan dan riset kita. Sudah saatnya negeri ini memiliki sistem pendidikan agama dan umum yang terintegrasi, penghargaan terhadap hasil karya teknologi anak bangsa, keterkaitan yang erat antara riset dan industri, dan strategi penguasaan teknologi yang jelas menuju industri nasional yang tangguh dan mandiri. Hanya dengan demikian, produktivitas perekonomian meningkat dan pertumbuhan akan berkelanjutan.

 

Koran Tempo, Selasa, 25 Agustus 2009

 

KERJASAMA ERAMUSLIM-IMZ DOMPET DHUAFA REPUBLIKA 2009

 

 

  • 1. Rabu, 17/06/2009 13:02 WIB Zakat dan Sedekah Apakah dengan berzakat harta kita bertambah, padahal saat menunaikan zakat berkurang?

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-dan-sedekah.htm

 

  • 2. Senin, 22/06/2009 10:54 WIB Upah Amil Zakat  Apakah dibenarkan memberikan zakat kepada mereka sebagai amil?

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/upah-amil-zakat.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/dasar-hukum-zakat-perusahaan.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-penghasilan-apakah-ada-dalam-syariat-islam.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:   http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/berapa-bulan-sekali-kita-wajib-membayar-zakat.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/cara-hitung-zakat.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-hasil-usaha.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/bagaimana-menghitung-zakat-saya-broker.htm

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/masihkah-membayar-zakat.htm

 

  • 10. Minggu, 26/07/2009 11:18 WIB Maksud Setelah Dikurangi Kebutuhan Sehari-hari Untuk Zakat maksud bayar zakat setelah dikurangi kebutuhan sehari-hari. Menurut Dr. Yusuf Qordhowi dalam Fiqhu az-Zakat, zakat profesi adalah pendapatan berupa gaji/upah yang diperolehnya berdasar profesinya.

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/maksud-setelah-dikurangi-kebutuhan-sehari-hari-untuk-zakat.htm

 

 

  • 11. Senin, 27/07/2009 08:32 WIB Membantu Biaya Kuliah Keponakan Apakah Sudah Termasuk Zakat Konsep terpenting dari zakat pada intinya adalah bagaimana mendidik para aghniyaa (orang-orang kaya) agar mempunyai kepedulian dan tanggungjawab sosial terhadap mereka yang diuji Allah dengan kemiskinan.

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/membantu-biaya-kuliah-keponakan-apakah-sudah-termasuk-zakat.htm

 

  • 12.Selasa, 28/07/2009 20:19 WIB Pembagian Zakat Profesi? Berdasarkan ayat tersebut jelas tidak ada pemberian zakat untuk orang tua sendiri atau mertua. Hal inilah yang dijelaskan oleh Ibnu Mundzir dalam kitabnya “Al-Bahr az-Zahrar” bahwa Islam mengajarkan kepada setiap anak/menantu hendaknya berlaku baik (ihsan) dan adil kepada kedua orang tua sendiri termasuk mertua.

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/pembagian-zakat-profesi.htm

 

  • 13. Jumat, 31/07/2009 09:26 WIB Apakah Barang-barang Pribadi Juga Harus dizakati? Ulama fiqih menjelaskan ada dua argumen; pertama, jika barang tersebut tidak bergerak dan tidak menghasilkan keuntungan maka tidak berzakat. ….. Kedua jika barang tersebut bergerak dan dapat menghasilkan keuntungan, maka wajib zakat

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/apkh-barang-barang-pribadi-juga-harus-di-zakati.htm

 

  • 14. Sabtu, 01/08/2009 15:06 WIB Zakat untuk PNS Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi jika sudah mencapai nilai tertentu (nishab). Profesi yang dimaksud mencakup profesi pegawai negeri sipil (PNS) atau swasta, dan lain-lain.

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-untuk-pns.htm

 

  • 15. Selasa, 04/08/2009 09:44 WIB Konsultasi Zakat Penghasilan dalam Islam para ulama kontemporer menjelaskan membolehkan mengeluarkan zakat profesi bisa dilakukan setahun sekali atau sebulan sekali yang jelas jika ditotal pendapatan bersih melebihi nishab zakat sehingga zakat yang dikeluarkan tetap 2,5%.

 

Lebih lanjut dan jelas buka website:  http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/konsultasi-zakat-penghasilan-dlm-islam.htm

 

  • 16. Sabtu, 15/08/2009 17:38 WIB Mobil Kredit Apakah Wajb Dzakat ? pernah dibahas pada mu’tamar ulama Islam kedua di Kairo, tidak wajib dizakati harta kekayaan berupa bangunan produktif, pabrik, kapal-kapal, pesawat terbang, kendaraan.

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/mobil-kredit-apakah-wajb-dzakat.htm

 

  • 17. Rabu, 19/08/2009 14:22 WIB Zakat Tki zakat profesi dapat dikeluarkan jika ditotal pendapatan bersih Mas Toni selama setahun melebihi nishab zakat emas 85 gram sehingga zakat yang dikeluarkan tetap 2,5%.

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-untuk-tki.htm

 

 

  • 18. Kamis, 20/08/2009 07:59 WIB Zakat Harta Simpanan Deposito dan Tabungan seluruh harta baik gaji/penghasilan/keuntungan maupun harta simpanan yang sudah dimiliki selama satu tahun (haul) dan cukup nishabnya setara dengan emas 85 gram maka wajib zakat.

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/serba-serbi-zakat.htm

 

  • 19. Selasa, 25/08/2009 13:21 WIB Zakat Dalam Bentuk Barang zakat boleh diberikan kepada anak yatim piatu sebab mereka dikategorikan sebagai kelompok orang-orang fakir (mustahik zakat) ….  Menurut pendapat Syekh Yusuf Qardhawi, bahwa membayar zakat dengan menggunakan uang adalah yang lebih sesuai untuk kondisi zaman sekarang

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-dalam-bentuk-barang.htm

 

  • 20. Selasa, 25/08/2009 23:12 WIB Apakah Rumah & Kendaraan juga di zakatkan ? jika rumah dan kendaraan itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak menghasilkan uang, maka tidak wajib zakat. Namun, jika rumah dan kendaraan yang digunakan untuk usaha wajib zakat.

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/apakah-rumah-kendaraan-juga-di-zakatkan.htm

 

  • 21 Kamis, 27/08/2009 09:09 WIB Punya Utang, Masih Wajib Zakat? gaji dan pendapatan setahun, wajib zakat bila mencapai nisab, sedang kan gaji dan upah setahun yang tidak mencapai nisab, tidak wajib zakat…. apabila seseorang dengan hasil profesinya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya dan pas-pasan, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat cukup bersedekah atau berinfak  saja.

Lebih lanjut dan jelas buka website: http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/punya-utang-masih-wajib-zakat.htm