Berikut adalah tulisan hasil konsultasi zakat bersama Muhammad Zen yang diterbitkan oleh Majalah Sharing (Inspirasi Ekonomi dan Bisnis Syariah) edisi 38 Thn. IV bulan Februari 2010, h. 35. (Kerja sama IMZ-majalah Sharing)

Zakat Tabungan di Bank Syariah

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Pak Ustadz Saya punya pertanyaan sebagai berikut: Saya mempunyai tabungan di Bank Syari’ah selama satu tahun jumlah saldo sebesar Rp. 35.000.000 yang terdiri dari Rp. 34.000.000,- tabungan dan Rp. 1.000.000,- bagi hasil, bagaimanakah cara menghitung zakatnya? Mohon penjelasannya. Terima kasih

wasalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Salim

Jawaban :

Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas pertanyaannya Bapak Salim yang baik. Dalil adanya kewajiban zakat tabungan/deposito sebagi berikut; Allah SWT mengecam orang yang sudah waktunya berzakat kemudian enggan berzakat dengan firman-Nya: “…dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak (termasuk tabungan/deposito) dan tidak menafkahkannya (berzakat) pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah (9): 34) Rasulullah bersabda: “Tiadalah bagi pemilik harta simpanan yang tidak menunaikan zakatnya, kecuali dibakar diatasnya di neraka jahanam” (HR. Bukhori)

Zakat merupakan bagian atau jumlah yang harus dikeluarkan dari harta yang kita miliki ketika harta tersebut mencapai nishab. Begitu pula halnya dengan tabungan, kriteria kepemilikan tabungan adalah sama dengan harta. Sehingga penghitungan zakat tabungan pun sama dengan penghitungan zakat maal (harta). Menurut ulama fiqih kontemporer perhitungan zakat tabungan adalah tabungan tersebut sudah tersimpan satu tahun/ haul atau dikeluarkan tahunan dan sudah cukup nishab sebesar 85 gram emas (asumsi harga emas pergram sekarang @Rp. 300.000 x 85 gram = Rp. 25.500.000) kadar zakatnya 2,5%. Berdasarkan penjelasan tersebut, Pak Salim sudah menabung satu tahun dan sudah melebihi nishab berarti wajib zakat 2,5% dari Rp.35.000.000,- (total dari tabungan dan bagi hasil Rp. 34.000.000 + Rp. 1.000.000,-)= Rp. 875.000,- Jadi zakat yang harus dikeluarkan oleh Pal Salim sebesar Rp. 875.000,- Al-hasil, berdasarkan penjelasan tersebut maka seluruh harta simpanan/tabungan yang sudah dimiliki selama satu tahun (haul) dan cukup nishabnya maka wajib zakat 2,5%.

Demikian semoga dapat dipahami. Waallahu A’lam.

Muhammad Zen, MA

Masihkah berzakat Tabungan

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Pak Ustadz Saya punya pertanyaan: Bagaimana cara perhitungan zakat, apabila saya menabungkan sebagian dari sisa gaji (yg sudah dipotong 2.5% di tempat kerjaan) pada salah satu bank syariah hingga mencapai saldo sebesar Rp. 20.000.000, apakah tabungan ini masih juga harus dikeluarkan zakatnya (dalam tahun yg sama), karena sepertinya menjadi 2 x 2.5% = 5%?

Terima kasih wasalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Nurul Qomariah

Jawaban :

Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas pertanyaannya Ibu Nurul Qomariah yang baik. Sabda Rasulullah Saw: “Bila engkau memiliki 20 dinar emas (simpanan/tabungan) dan sudah mencapai satu tahun maka zakatnya setengah dinar (2,5%)”. (HR Ahmad) Zakat tabungan apabila tersimpan satu tahun dan mencapai nishab sebesar 85 gram emas (asumsi harga emas 85 gram x Rp. 300.000 = Rp. 25.500.000) maka wajib zakat, kadar zakatnya 2,5%. Dalam hal ini tabungan Ibu Nurul belum cukup nishab (baru Rp. 20.000.000) jadi belum wajib zakat. Namun, sangat dianjurkan bersedekah.

Gaji atau penghasilan yang telah dizakati kemudian sisanya ditabung tidak perlu lagi dibayarkan zakatnya dua kali untuk harta yang sama dan pada tahun yang sama. Karena pemilik uang sudah bayar zakat penghasilan, maka uang itu tidak perlu lagi dibayarkan zakatnya sebagai zakat tabungan. Jelasnya untuk tahun ini Ibu tidak harus mengeluarkan zakat dari tabungan Ibu. Alasannya tidak ada double zakat (ganda 2 x 2.5% = 5%) dari harta yang sama pada tahun yang sama. Nanti jika tabungan Ibu sudah berjalan terus dan memasuki periode tahun berikutnya, baru wajib zakat, karena sudah terjadi perbedaan tahun. Karena sudah berubah posisi menjadi simpanan.

Zakatnya sebesar 2,5% dari saldo terakhir Dahulu, Rasulullah telah mewajibkan zakat emas dan perak, padahal Rasulullah pun tahu bahwa emas dan perak yang mereka miliki adalah dari hasil usaha mereka seperti perdagangan. Jika kita berfikiran bahwa kita tidak wajib mengeluarkan zakat emas/simpanan/tabungan dengan alasan bahwa kita sudah mengeluarkan zakat penghasilan kita, tentu Rasulullah pun tidak akan mewajibkan zakat emas dan perak, karena tentu zakat emas dan perak sendiri berasal dari hasil usaha mereka. Dari hasil usaha merekapun tetap Rasulullah memerintahkan untuk dikeluarkan zakatnya.

Demikian pula seseorang yang mempunyai tabungan sudah dikeluarkan zakatnya dari profesi, apabila dari tabungan tersebut sudah satu tahun dan cukup nishab pada tahun berikutnya di mana tabungan tersebut sudah berubah posisi menjadi harta simpanan. maka wajib atasnya berzakat 2,5%. Jika tidak cukup nishab dan belum berlalu haul tidak wajib zakat. Sabda Rasulullah yang Artinya: “Tidak wajib membayar zakat sampai sudah berlalu satu tahun” (HR. Abu Dawud)

Demikian semoga dapat dipahami. Waallahu A’lam.

Muhammad Zen, MA