Senin, 25 Februari 2008
Melihat Perekonomian 2008 Lebih Realistis
Oleh : Umar Juoro
Belum lagi genap dua bulan, pemerintah bersama dengan DPR mulai membahas perubahan APBN 2008. Asumsi-asumsi berusaha disesuaikan dengan perkembangan perekonomian yang prospeknya tidak sebaik yang diperkirakan semula. Asumsi pertumbuhan ekonomi diturunkan dari 6,8 persen menjadi 6,4 persen dan asumsi inflasi dinaikkan dari 6 persen menjadi 6,5 persen. Perkiraan ini lebih realistis dengan masih adanya kemungkinan pertumbuhan yang lebih rendah dan inflasi yang lebih tinggi dari asumsi tersebut. Permasalahannya sumber pertumbuhan berupa ekspor dan konsumsi masyarakat mengalami tekanan, sedangkan investasi belum diharapkan dapat tumbuh optimal. Pelemahan ekonomi AS menurunkan kinerja ekspor dan kenaikan harga menekan konsumsi masyarakat.

Bagi pemerintah, tantangan yang dihadapi adalah meningkatnya defisit APBN terutama karena melonjaknya subsidi BBM dari Rp 45,8 triliun menjadi Rp 102 triliun, dan subsidi listrik dari Rp 29,8 triliun menjadi Rp 42,6 triliun, serta subsidi pangan dari Rp 7,2 triliun menjadi Rp 19,8 triliun. Jika harga minyak yang diasumsikan 83 dolar AS per barel dalam kenyataannya lebih tinggi lagi, maka subsidi BBM dan listrik juga akan mengalami peningkatan lagi. Perkiraan bahwa harga minyak dunia akan menurun dengan melemahnya perekonomian AS ternyata tidak terjadi karena permintaan yang tinggi terutama Cina dan India, dan besarnya dana yang masuk ke pasar berjangka minyak yang mendorong kenaikan harga masa datang.

Pemerintah tidak bersedia menaikkan harga BBM bersubsidi karena khawatir meningkatkan inflasi yang kecenderungannya sudah meningkat yang dapat membuat situasi sosial-politik menjadi tidak menguntungkan menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden tahun 2009. Upaya untuk melakukan langkah pembatasan konsumsi premium dan minyak tanah dengan berbagai cara tampaknya tidak efektif. Akibatnya pengeluaran subsidi BBM membengkak, demikan pula subsidi listrik.

Untuk memenuhi peningkatan defisit ini pemerintah melakukan langkah-langkah antara lain memberbesar penerbitan Surat Utang Negara dan melakukan penghematan dalam belanja pemerintah. Bagi pemerintah situasi ini tentu saja tidak menguntungkan pada saat semestinya pemerintah dapat menunjukkan prestasi yang lebih baik dalam perekonomian menjelang pemilu.

Kenaikan harga bahan pangan yang terjadi tidak saja di dalam tetapi juga di luar negeri mendorong kenaikan inflasi. Banyak pihak tidak menduga tingginya inflasi pada bulan Januari. Upaya untuk mengendalikan harga pangan dilakukan terutama dengan mempermudah impor, namun dengan tingginya harga pangan di pasar internasional, upaya tersebut tidak seefektif yang diharapkan. Tingginya inflasi sangat membebani masyarakat terutama yang berpendapatan rendah.

Dunia usaha juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ini. Industri manufaktur menghadapi tantangan paling berat karena bukan saja biaya produksi meningkat, dengan tingginya harga BBM dan bahan baku, daya beli konsumen juga mengalami penurunan. Hanya industri kendaraan bermotor yang tampaknya masih berekembang dengan cukup baik, selama harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan.

Sayangnya pada saat harga komoditas pertambangan dan pertanian mengalami peningkatan, pertumbuhan dua sektor ini jauh dari menggembirakan. Permasalahan peraturan yang tidak mendukung masih menjadi hambatan utama bagi sektor pertambangan. Sementara itu upaya untuk meningkatkan produksi pertanian, terutama bahan pangan, belum memberikan hasil yang menggembirakan karena lemahnya dukungan pembiayaan, pembibitan, penyuluhan, dan buruknya infrastruktur.

Bisnis konstruksi terutama perumahan masih akan tumbuh cukup baik selama bunga perbankan tidak mengalami peningkatan. Sekalipun kecenderungan inflasi meningkat, tampaknya BI masih akan tetap mempertahankan bunga SBI yang membuat perbankan juga tidak akan meningkatkan bunganya. Jikapun inflasi lebih tinggi dari yang diperkirakan, BI kemungkinan hanya akan menaikkan bunga sekitar 0,25 persen yang implikasinya pada bunga perbankan tidaklah terlalu besar. Karena itu perbankan masih merupakan bisnis yang tumbuh cukup baik dalam keadaan relatif sulit ini.

Bisnis perdagangan tradisional dengan konsumen masyarakat berpendapatan rendah mengalami tekanan, sedangkan perdagangan modern masih tumbuh cukup baik. Dalam sitiuasi demikian maka kesenjangan masyarakat berpendapatan rendah dengan yang berpendapatan tinggi akan semakin melebar. Masalah ini menjadi isu politis yang cukup serius dalam pemilu tahun depan.

Pemerintah berupaya untuk mengurangi beban masyarakat miskin antara lain dengan meningkatkan subsidi pangan. Namun permasalahannya selalu adalah pada keefektifannya. Program beras untuk golongan miskin selama ini kurang dapat menjangkau kelompok sasaran. Sementara itu proyek-proyek pemerintah apalagi di daerah masih tersendat-sendat pelaksanaannya sehingga kurang dapat membantu dalam penyediaan kesempatan kerja. Berjalannya proyek-proyek pemerintah di pusat dan daerah akan sangat membantu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat pada umumnya. Permasalahan keterlambatan persetujuan APBD di banyak daerah, keengganan untuk melaksanakan proyek karena sulitnya prosedur dan ketatnya pengawasan, semua ini harus di atas jika proyek-proyek pembangunan diinginkan untuk berjalan.

Pandangan yang lebih relistis memperlihatkan bahwa tantangan perekonomian pada tahun 2008 cukup berat. Pemerintah dan dunia usaha berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan yang kurang menggembirakan ini. Keefektifan berbagai penyesuaian dan program akan sangat membantu mengurangi beban terutama masyarakat miskin. Begitu pula masyarakat pada umumnya harus menyesuaikan diri sedapat mungkin dengan perkembangan ini. Situasi menjadi lebih serius karena menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden tahun 2009.

Sumber: http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=324719&kat_id=15

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s