Signifikansi Manajemen Dakwah Islam

Dalam Agenda Perubahan Sosial

(Tulisan ini di muat di jurnal SIMBOL Tahun 2000)

Oleh : Muhammad Zen**)

Pendahuluan

Muslim di Indonesia merupakan mayoritas dan bahkan dikenal sebagai “The Largest Moslem Country in The World”, namum di sisi lain ia juga menyandang predikat “The Most Corrupted Country” di belahan Asia. Diperparah dengan munculnya tindak kejahatan yang senantiasa menghadang disetiap saat dan maraknya krisis moral, korupsi, kolusi dan nepotisme. Proses dakwah di negeri gemah ripah loh jinawi ini terlihat masih berkutat sebatas tekstual ajaran Islam (teoritis), boleh dibilang kurang membidik pesan ajaran Islam secara konstekstual sesuai dengan rumusan kebutuhan mad’u. Dai dalam menyampaikan dakwah lebih asyik memberi materi tentang neraka dan syurga, sudah sepatutnya da’i memanaje materi yang dibutuhkan oleh mad’u. Dakwah dilakukan tidak semata-mata dakwah bil-lisan (dengan kata-kata) melainkan dengan aksi social (dakwah bil-hal). Sehingga urgensi manajemen dalam dakwah menjadi takterelakkan, agar dakwah yang dilakukan secara individual dan kelompok baik melalui perkataan, tulisan, lembaga dan berbagai aktivitas sehari-hari menjadi efektif dan sesuai dengan tujuan dakwah Islam. Mengajak manusia dari apa adanya menuju kepada apa yang seharusnya, menyelamatkan orang-orang agar tidak sampai jatuh ke dalam murka Allah.

Signifikansi Manajemen Dakwah

Manajemen baik dipandang sebagai ilmu (science) maupun seni (art) pada awal exisistensinya dapat dicermati kerap kali berkutat pada persoalan industri dan bussines

__________________

*) Penulis, Dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta

(1911).[1] Perkembangan selanjutnya justru manajemen sangat diperlukan dan bermanfaat bagi setiap usaha dalam berbagai bidang, tak terkecuali sektor dakwah. Semua aktivitas manusia yang memiliki tujuan tak bisa terlepaskan dari urgensi manajemen, sebab manajemen memberikan plumas bagi roda aktivitas manusia untuk mengapai dan mengail tujuan yang telah diharapkan (dicita-citakan). Demikian halnya aktivitas dakwah yang memiliki tujuan yang lebih kompleks, tentunya eksistensi manajemen sangat berperan agar substansi dakwah yang akan disampaikan kepada mad’u –melalui berbagai metode—menjadi efektif dan efisien.

Istilah manajemen dan dakwah meski berlatar belakang dari disiplin ilmu yang berbeda-beda, namun keterpaduan di antara dua disiplin ilmu ini dapat memberikan warna tersendiri dalam khazanah keilmuan Islam. Manajemen dan Dakwah meski berangkat dari perbedaan yang “mencolok”, urgensi manajemen rupanya sudah menjadi sebuah keharusan bagi da’i untuk menggapai kepada titik keberhasilan berdakwah menjadi optimal.

Untuk membedah definisi Manajemen dan Dakwah sangatlah luas jangkauannya. Dalam tulisan ini hanya ditengahkan definisi yang menurut penulis sudah dianggap mewakili substansi pengertian Manajemen dan Dakwah. Di tinjau dari segi bahasa manajemen dapat diartikan sebagai how to manage (bagaimana mengatur), how to hand (bagaimana menangani), dan how to control (bagaimana mengontrol/ mengawasi). Secara istilah, G.R. Terry dalam bukunya “Principle of Management” (Home wood illions, sixth edition, Richard Irwin, Inc. 1972) menjelaskan bahwa: Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling performed to determine and accomplish stated objectivas by the use of human being and other resources.

“Manajemen merupakan suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya”.[2]

Sedangkan dakwah secara lugatan berasal dari bahasa Arab yang terambil dari kata دعى، يدعو، دعوة berarti panggilan, seruan atau ajakan.[3] Dalam Lisan al-Arab karya Ibn Manzur Jamal al-Din Muhammad ibn Mukarram al-Ansari, terdapat penjelasan tentang arti dakwah dari kata da’a dengan dua pengertian saja, yaitu dengan arti permohonan do’a dan pengabdian kepada Allah SWT.[4]

Menurut Prof. Toha Umar dakwah Islam adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka didunia dan akherat.[5] Dari berbagai pendapat diatas terlintas sebuah gambaran pertama, dakwah adalah mengajak kejalan Allah (fi sabilillah, system Islam), kedua dilaksanakan secara berjama’ah (terorganisir), ketiga didalamnya merupakan kegiatan untuk mempengaruhi umat manusia supaya masuk ke jalan Allah (system Islam), keempat dengan sasaran fardhiyyah dan jama’ah.

Sehingga secara kesuluruhan arti dakwah adalah mengajak umat manusia supaya masuk ke jalan Allah secara menyeluruh baik dengan lisan dan tulisan maupun dengan perbuatan sebagai ikhtiar muslim mewujudkan ajaran Islam menjadi kenyataan dalam kehidupan pribadi, kelurga, jama’ah dan umat dalam semua segi kehidupan, sehingga terwujud khairul ummah.

Sedang tujuan utama dakwah dari berbagai pengertian diatas adalah terwujudnya kebahagian, kesejahteraan hidup didunia dan akherat yang diridhai Allah. Kebahagian, kesejahteraan hidup didunia dan akherat yang diridhai Allah merupakan suatu nilai atau hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh keseluruhan usaha da’wah, dan hal itu merupakan konsekwensi logis dari dilaksanakannya usaha-usaha dakwah itu sendiri.

Arti kata dakwah seperti ini dapat dijumpai dalam ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, seperti :

…. وادعوا شهداء كم من دون الله

Artinya : “……Dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah SWT….” (QS. Al-Baqarah {2} : 23).

…. اولئك يدعون الى النار والله يدعوا الى الجنة والمغفرة ……..

Artinya : “…….Mereka itu menyeru ke dalam neraka dan Allah SWT menyeru ke dalam surga dan ampunan ……” (QS. Al-Baqarah {2) : 221).

من دعا الى هدى كان له من الاجر مثـل أجور من تبعه لا ينقص ذلك أجورهم شيئا

Artinya : “Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti yang diperoleh orang yang telah mengikutinya dan tidaklah dikurangkan sedikitpun juga daripadanya (pengikutnya)”.[6] (HR. Muslim).

Dakwah berarti seruan atau ajakan kepada Islam dengan melakukan amar makruf nahi munkar, sebagai pedoman berdakwah dalam mengajak kebajikan (dalam ajaran Islam) dan mencegah kejahatan (yang bertentangan dengan ajaran Islam).[7] Dengan demikian pengertian dakwah yang bersifat pembinaan adalah suatu usaha mempertahankan, melestarikan dan mengarahkan ummat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah SWT, dengan menjalankan syari’at-Nya. Sehingga mereka menjadi manusia yang hidup bahagia dunia akhirat. Sedangkan pengertian dakwah yang bersifat pengembangan adalah usaha mengajak ummat manusia yang belum beriman kepada Allah SWT dan upaya untuk menyempurnakan pelaksanaan ajaran Islam.

Definisi ini setidak-tidaknya memberikan dakwah secara universal, di mana dakwah diartikan secara luas sebagai suatu proses usaha untuk mencapai apa yang menjadi tujuan dakwah, menyangkut segi-segi atau bidang-bidang yang sangat luas. Tidak hanya dakwah dipahami sebagai dakwah bi al-lisan melainkan dakwah bi al-kitabah, bi al-hal, bi at-tadbir atau bi at-tandim.

Dari penjelasan tersebut dapat ditarik benang merah bahwa manajemen dakwah adalah proses memanaje dakwah melalui POAC yaitu Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (penggerakan), dan Controlling (pengawasan/ evaluasi) agar tercapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan, dengan harapan proses dakwah tersebut memperoleh hasil lebih efektif dan efisien.

Pembicaraan mengenai dakwah akan menghantarkan kita juga memasuki segenap sisi kehidupan manusia, sehingga berbagai bidang akan ditelusuri meliputi pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan yang di sana terdapat persoalan dakwah. Singkatnya, dakwah merupakan segala sesuatu yang mengajak kepada kebaikan dalam bentuk apapun (perorangan, kelompok atau lembaga-lembaga Islam baik yang berorientasi pendidikan, perekonomian, sosial-keagamaan, politik dan sebagainya).[8]

Manajemen Dakwah dan Persentuhan dengan Masyarakat

Kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para da’i tak lepas dari eksistensi mad’u (masyarakat/ audiens). Hal ini menurut Prof. Dr. H.M. Yunan Yusuf sebab interaksi da’i dan mad’u sangat erat sebagai mana telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam berdakwah, dalam waktu 23 tahun, beliau telah berhasil membentuk masyarakat egaliter, terbuka dan demokratis yang dipandang sangat maju melampaui zamannya. Namun tak dapat dipungkiri, keberhasilan tersebut merupakan bukti dari kesuksesan menejemen yang dijalankan oleh Rasulullah saw dalam melakukan aktivitas dakwah yang didukung oleh masyarakat (umat Islam).[9]

Ketika membangun masyarakat ada beberapa upaya manajemen yang telah dilakukan oleh Rasulullah yaitu melakukan tiga tahap atau proses pengembangan masyarakat, yakni takwin, tanzim, taudi’. Takwin adalah tahap pembentukan masyarakat Islam, kegiatan pokok tahap ini adalah dakwah bil lisan sebagai ikhtiar sosialisasi aqidah, ukhuwah, dan ta’awun. Semua aspek tadi, ditata menjadi instumen sosiologis. Proses sosialisasi dimula dari unit terkecil dan terdekat sampai kepada perwujudan-perwujudan unit terbesar (dari strata ekonomi bawah sampai atas).
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!

Pada tahap takwin telah terwujud jamaah Islam yang akan menjadi comuniti base kegiatan dakwah Nabi di Yastrib. Tanpa terwujudnya bai’at aqabah, secara sosiologi, dakwah Nabi SAW di Yastrib tidak akan berjalan semulus yang terjadi karena itu, kesepakatan (bai’at) antara da’i dan mad’u merupakan sunatullah dalam sejarah yang menentukan keberhasilan dakwah Islam karena bai’at merupakan prinsip pengorgani-sasian Islam, maka adanya organisasi dakwah merupakan suntullah untuk keberhasilan dakwah.

Tanzim adalah tahap tembinaan dan penataan masyarakat, pada fase ini internalisasi dan eksternalisasi Islam muncul dalam bentuk internalisasi Islam secara konprehensif dalam realitas social. Tahap ini dimulai dengan hijrah Nabi ke Madinah. Fase hijrah dimulai dengan pemahaman karakteritik social masyarakat Madinah, baik melalui informasi dari Mus’ab bin Umair maupun interaksi Nabi dengan jamaah haji peserta bai’at Aqabah. Dalam persepektif strategi dakwah, hijrah dilakukan ketika tekanan cultural, struktural, dan meliter sudah demikian mencekam sehingga jika tidak hijrah, bisa terjadi involusi kelembagaan dan menjadi lumpuh. Fase ini tercipta masyarakat yang cukup dalam berbagai sisi kehidupan.

Taudi’ adalah tahap keterlepasan dan kemandirian pada tahap ini, umat telah siap menjadi masyarakat mandiri, terutama secara manajerial. Bila ketiga tahap ini selamat dilalui, bolehlah berharap akan munculnya suatu masyarakat Islam yang memiliki kualitas yang siap dipertandingkan dengan kelompok-kelompok masyarakat lain dalam arena pasar bebas nanti.

Demikian halnya proses dakwah di Indonesia, dalam melakukan aktivitas berdakwah juru dakwah tidak dapat lepas dari interaksi dengan mad’u (masyarakat). Sehingga sudah sepatutnya para da’i melakukan upaya terobosan bagaimana memberdayakan masyakat dalam berbagai dimensi dengan pisau analisis manajemen dakwah yang merubah kebiasaan yang tidak baik menuju perbuatan yang baik atau dengan kata lain merubah tabi’at manusia dari apa adanya kepada apa yang seharusnya sesuai apa yang diperintahkan Allah SWT.

Problematika Dakwah Sebagai Cambuk Solusi Social of Change

Memasuki milenium ketiga, dunia dakwah menghadapi tantangan baru yang lebih sistemik sifatnya. Zaman globalisasi dan pasar bebas juga merupakan tantangan yang harus dihadapi. Tekad Indonesia untuk menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia tidak dapat terealisasi apabila tidak mengambil langkah-langkah konkret sejak sekarang.[10]

Problematika kehidupan yang dihadapi umat Islam di Indonesia sangatlah komplek. Krisis Iman, krisis moral dan krisis ekonomi yang bermuara terjadinya pergeseran dari umat (bangsa) yang bermoral [11], ramah dan santun, berubah drastis ke arah tindakan-tindakan anarkis.[12] Manusia dibakar hidup-hidup, pemerkosaan, perampokan dengan berbagai modus –baik cara konvensional sampai cara mutakhir melalui cyber space (dunia maya), tawuran antar sekolah, kelompok, atau etnis/daerah menjadi budaya yang sangat memprihatinkan. Belum lagi agenda lama dakwah yang belum terselesaikan, seperti merebaknya perjudian, penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, serta kolusi-korupsi-nepotisme.[13]

Prof. Dr. Ismah Salman menganggap hal ini menjadi miris kiranya, jika dicermati suatu realitas sosial dan kultural bahwa Indonesia adalah negeri muslim terbesar di Dunia,[14] sudah sepatutnya kaum muslimin Indonesialah yang bertanggung jawab atas keberhasilan dan ketidakberhasilan dakwah Islam di bumi pertiwi ini, [15] sebab setiap umat Islam berdasarkan nash memiliki kewajiban untuk berdakwah.

Oleh karena itu berbagai konflik, perjudian, percaya kepada para normal, pencurian dan penjarahan yang dilakukan masyarakat merupakan agenda dakwah yang belum terselesaikan, merupakan tanggung jawab kita bersama dalam memanaje dakwah minimal untuk diri sendiri dan lebih luas terinternalisasi kepada masyarakat. Di samping tanggung jawab tersebut dibebankan tugas khusus kepada para juru dakwah dalam melakukan aktivitas berdakwah. Jika dakwah di Indonesia belum sampai kepada tahap keberhasilan tidak berarti kita mengkambinghitamkan para juru dakwah telah gagal melakukan aktivitas dakwah, melainkan kita semua sebagai bangsa Indonesia yang nota bene berpenduduk masyoritas Islam harus bekerja sama merubahnya.

Dalam melakukan sebuah perubahan, yang sangat penting adalah disamping ucapan disertai dengan contoh panutan perbuatan yang terpuji sesuai dengan kemampuan masing-masing, untuk merubah dari tindakan yang tidak baik (dilarang) kepada perbuatan yang dianjurkan Allah SWT.

Belum lagi musuh-musuh Islam punya program rinci, sistimatis untuk memurtadkan orang-orang Islam. Dakwah Islam harus punya program jelas, terarah, terukur, teratur. Berapa persen ditargetkan kenaikan jumlah anggota jama’ah shubuh, kenaikan jumlah anggota jama’ah Jum’at untuk selang waktu tertentu. Berapa persen ditargetkan kenaikan jumlah orang yang bisa baca-tulis Qur’an, kenaikan jumlah orang yang bisa baca-tulis, kenaikan jumlah orang yang bisa khutbah Jum’at untuk selang periode tertentu. Berapa persen ditargetkan menurunnya jumlah pencopet, penodong, pemerkosa, pengamen, pemulung, pelacur, pemabuk, penjudi, penjarah untuk selang waktu tertentu.

Hasil dakwah perlu dievaluasi secara berkala. Sudah berapa persen target tercapai. Apa saja kendala yang merintangi keberhasilan. Tentukan indikator-indikator keberhasilan. Tentukan langkah, program kerja berikutnya. Program kerja berikut merupakan koreksi program sebelumnya. Untuk itulah kegiatan dakwah perlu mengadopsi fungsi operasi manajemen, mencakup fungsi perencanaan (planning, programming), fungsi organizing, fungsi pembimbingan (directing), fungsi coordinating, fungsi pengawasan (controlling). Dalam program kerja antara lain diperhatikan tentang sasaran, pelaku (man), dana (money), waktu, metode dakwah.

Sudah masanya, lembaga dakwah, muballigh memusatkan diri menyampaikan tuntunan, panduan Islam dalam mencegah timbulnya konflik sosial, baik konflik vertikal (antara atasan dan bawahan, antara majikan dan pelayan, antara penguasa dan rakyat) maupun konflik horizontal (sesama rakyat, sesama penguasa, antara eksekutif dan legislatif). Menyampaikan ajaran “salam” yang dapat menumbuhkan rasa kasih sayang secara konkrit.

Problematika dakwah akan selalu ada selama denyut nadi umat Islam masih berdetak. Tantangan kristenisasi, kebodohan, maraknya kelompok-kelompok yang mengaku menyuarakan Islam, disharmoni dengan pemerintah setempat ataupun policy nasional, kebebasan pers dan media massa yang tidak terkendali dan bertanggung jawab, adalah wacana-wacana eksternal dalam problematika dakwah. Dalam kasus internal, profesionalisme da’i dalam pengertian yang seluas-luasnya masih menjadi keluhan mendasar. Karena da’i sebagai agent of change harus mempunyai visi yang jelas, tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh Islam tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya dalam mengarahkan umat Islam kepada suatu tatanan yang lebih mapan, establish, maju dan diperhitungkan di hadapan umat-umat lain.

Perubahan sosial ke arah yang lebih baik jelas tidaklah mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan, namun perlu adanya sinergitas pelbagai komponen untuk melakukan aktivitas dakwah. Prof. Dr. Ismah Salman secara jelas menguraikan berdakwah harus sesuai dengan kemampuannnya masing-masing di mana saja kita berada seperti:[16]

a. Perkantoran dilaksanakan oleh Pimpinan, kepala bagian dan seluruh karyawan muslim/muslimah sesuai kemampuannya karena mereka adalah Hamba Allah yang dituntut untuk menyampaikan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

b. Rumah Sakit: oleh Dokter, Bidan, Perawat, buruh para medis melaksanakan Dakwah dalam menghadapi pasien selain memberikan obat, juga mendorong mereka (para pasien) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

c. Setiap lembaga pendidikan, melaksanakan dakwah melalui guru dalam seluruh mata pelajaran. Menyisipkan ajaran Islam dalam melaksanakan kegiatan bagi peserta didiknya.

d. Perdagangan/ industri, melaksanakan dakwah melalui usaha yang halal dan toyyib, berlaku jujur dalam menakar timbangan dan tidak berlaku curang. Memberi imbalan gaji karyawan sesuai dengan mekanisme yang ada.

e. Setiap orang tua melaksanakan dakwahnya bagi anak cucu yang dilahirkan.

f. Insan Media Massa, yang muslim: melaksanakan tugasnya dengan kesadarannya untuk menyampaikan ajaran agamanya Ia juga mengemban tugas mulia untuk menjadi da’i bagi umatnya. Baik melalui surat kabar, majalah, jurnal, tv, film.

g. Birokrat berdakwah melalui kegiatannya sebagai pemimpin sebagai tauladan dalam melaksanakan kegiatannya.

h. Politisi, membekali diri dengan ilmu tentang Islam dan dapat berdakwah dalam partainya.

i. Hakim dan Jaksa berdakwah melalui jalur profesionalisme dengan menjalankan tugas amanah dengan sebenar-benarnya, menghakimi orang dengan cara adil, tanpa terpengaruhi oleh uang pelicin untuk tidak berbuat tidak adil.

j. Polisi, tentara berdakwah melalui kegiatannya sebagai penjaga keamanan negara dengan ramah tamah dan contoh akhlak yang mulia baik di kantor maupun saat melayani masyarakat.

k. Pengelola Website berdakwah melalui dunia maya (cyber space) yang memberikan informasi yang islami sesuai kebutuhan umat Islam.

l. Lembaga Ekonomi berdakwah dengan cara mensosialisasikan sistem perbankan yang sesuai dengan syariah tanpa bunga melainkan dengan sistem bagi hasil, dan membumikan zakat di indonesia untuk membantu merubah stratifikasi sosial dari terendah melesat ke ke lapisan lebih tinggi, peminta-minta (mustahiqqin) menuju mizakki.

Peningkatan Skill Da’i

Maraknya training pelatihan-pelatihan da’i yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi dakwah dalam bidang manajemen dan lain-lain, tidak saja diharapkan dapat melakukan aksi solusi memanaje atas probelamatika umat dalam bingkai diatas, tapi juga dalam rangka menyatukan rentak dan langkah para du’at. Para du’at dituntut untuk memperbarui keikhlasan mereka agar dapat melahirkan ketekunan dan kesungguhan yang tak lekang oleh panas. Harus dipahami bahwa kewajiban dakwah bukanlah sebuah pekerjaan sambil lalu, tapi merupakan kewajiban atas setiap muslim (QS. Ali Imran: 104 & 110). Karenanya, setiap muslim -apapun profesinya-, adalah juga da’i yang dituntut untuk menyampaikan misi Islam seluas-luasnya sesuai dengan kemampuan.

Karena itu, kaderisasi da’i melalui individu, institusi keluarga di mana orang tua menjadi sokoguru, institusi-institusi dakwah, media massa, dan lain-lain harus terus disemarakkan sehingga masalah umat dapat diminimalisasi. Krisis multidimensional yang melanda bangsa kita ternyata memberikan agenda yang belum untas atas proses mapping dakwah Islam di Indonesia. Kesadaran akan pengamalan ajaran Islam menjadi sebuah keharusan, agar kehidupan di dunia ini berjalan sebagai mana mestinya, tidak ada kedhaliman, keonaran, dan kerusakan di muka bumi ini oleh kerakusan manusia.[17] Milenium ketiga adalah era di mana diperlukan kemampuan profesional dalam melaksanakan manajemen dakwah Islam.

Manajemen Dakwah Islam adalah mendorong tertatanya semua program yang mengarah terhadap peningkatan aqidah umat Islam dan pemberdayaan ekonomi masyarkat. Hal ini diharapkan agar terbentuk masyarakat yang Islami yang terangkum dalam negeri yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur. Tentu, memerlukan usaha yang keras dari berbagai elemen dalam berdakwah yang merupakan kewajiban individu. Berdakwah merupakan tugas mulia dan suci yang dibebankan kepada setiap muslim dalam posisi dan profesi di mana pun ia berada.[18]

Meskipun demikian, hendaknya training peningkatan skill juru dakwah yang telah berjalan dikembangkan kembali agar para juru dakwah memiliki sisi manajerial dan senantiasa akan berupaya melakukan solusi dalam problematika mad’u dengan melakukan improvisasi terhadap mereka sebagi upaya transpormasi ajaran Islam dari apa adanya (das sein) kepada apa yang seharusnya (dassolen).

Peluang Alumni Manajemen dakwah

Kehadiran calon da’i yang memiliki integritas sisi manajerial dan keilmuan yang layak sangatlah dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam. Itulah kiranya di antara alasan mencuat jurusan manajemen dakwah di lingkungan UIN/ IAIN. Tampilnya jurusan ini sangat diharapkan oleh oleh UIN/IAN (sebagai pembuat produk adanya jurusan) dapat menelurkan para alumni yang memiliki skill manajerial dalam mengelola lembaga dakwah Islam (baik yang berorientasi politik, pendidikan, ekonomi, sosial keagamaan maupun budaya dan informatika/ media cetak), yang dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah didapatinya dan bermanfaat bagi kemajuan dan tegaknya izzul islam wa almuslimin. Sebagai stack holder (lembaga-lembaga dakwah dan kemasyarakatan) juga sangat menantikan dalam mengelola lembaga dakwah yang mereka pimpin agar lebih efektif.

Awal munculnya Manajemen Dakwah dikenal sebagai jurusan di lingkungan IAIN/UIN sekitar tahun 1995 dan 1996, namun sebagai pioner untuk membuka jurusan ini yaitu IAIN Bandung dan di susul IAIN Makassar. Mengapa tidak di pusat (IAIN Jakarta) terlebih dahulu untuk mendirikan jurusan ini? Pertanyaan inilah yang sempat mencuat dikumandangkan mahasiswa angkatan pertama (tahun 1997) jurusan ini saat berlangsungnya acara dialog kefakultasan yang digelar waktu itu. Meskipun terlambat dua tahun (1997) jurusan Manajemen Dakwah baru dibuka oleh IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (yang sekarang sudah berubah menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) sebab melihat prospek outputnya yang cukup cerah dan sangat dibutuhkan oleh lembaga-lembaga Islam (dakwah).

Meskipun terbilang jurusan ini relatif masih muda (enam tahun), ternyata dapat dicermati out put alumni manajemen dakwah telah menyebar di berbagai lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah dan kemasyarakatan. Ada yang aktif menjadi Ketua DKM Masjid Raya, ketua majelis taklim, kepala sekolah, aktif di lembaga ekonomi Islam, ada yang menjadi pengusaha sukses, aktif di ormas-ormas Islam dan LSM, aktif di Rumah Sakit Islam, aktif di penelitian, aktif sebagai tenaga pengajar baik di sekolah maupun di perguruan tinggi dan lain sebagainya.

Hal ini secara kasat mata memang sudah cukup menggembirakan, namun masih jauh dari harapan. Sebab masih sangat perlu adanya pembenahan secara eksternal dan internal. Secara eksternal pihak Fakultas Dakwah dan Komunikasi terutama jurusan Manajemen Dakwah (sebagai garda fakultas dan produsen menciptakan mahasiswa siap pakai) sangat perlu meningkatkan jaringan (network) kepada lembaga-lembaga dakwah di Indonesia. Dengan mengidentifikasi rumusan-rumusan kebutuhan yang diperlukan oleh lembaga-lembaga tersebut mencakup apa saja, sehingga memberikan rumusan agenda perbaikan kurikulum yang telah ada kepada apa yang dibutuhkan oleh stack holder (lembaga-lembaga dakwah). Atau bisa saja mendatangkan tenaga pengajar dari luar sebagai praktisi di lembaga dakwah yang bersangkutan, sehingga adanya sinkronisasi antara teorisi dengan praktis. Tidak sebaliknya membuat kurikulum yang kurang dibutuhkan oleh mereka, atau tidak berupaya mendatangkan tenaga pengajar dari lembaga tersebut.. Jika sudah mengarah kepada apa yang dibutuhkan oleh lembaga-lembaga dakwah tersebut, jurusan manajemen dakwah mendatang akan menjadi mercusuar dan rujukan dalam bidang manajemen dakwah yang dikembangkan bagi proses memanaje dakwah Islam di Indonesia.

Adapun perbaikan secara internal mencakup bagaimana pihak manajemen fakultas mencetak mahasiswa yang siap pakai baik di lembaga dakwah dan di tengah-tengah masyarakat. Peningkatan kualitas mahasiswa bisa dilakukan dengan peningkatan skill bahasa dan komputer, perbaikan kurikulum yang sesuai dengan arus rumusan kebutuhan lembaga dakwah. Memberdayakan laboratorium sebagai media praktikum awal guna menghantarkan ke dunia kenyataan di masyarakat. Sehingga Keluhan dan pesimistis mahasiswa Manajemen Dakwah untuk menggapai masa depan yang cerah dapat diminimalisasikan, sesuai dengan spesialisasi idaman dan tujuan pokok mereka memasuki jurusan ini.

Dari sisi tenaga pengajar kejuruan Manajemen Dakwah ini meskipun kita merasa berbesar hati sebab banyak dosen yang kompeten, namun secara kunatitaif dosen kejuruan dimiliki justru rata-rata bukan dari golongan praktisi lebih banyak teorisi, sehingga jalur birokrasi yang dimiliki dosen sangat minim. Implikasi ini juga membuat mahasiswa Manajemen Dakwah lebih banyak berkutat kepada persoalan-persoalan teoritis dengan jarang untuk menyentuh kepada persoalan-persoalan praktis atau merealisasikan teori di lapangan. Sebab, penguasaan bidang manajemen dakwah (lembaga Islam) secara teoritis dan praktis bagi kader manajer lembaga Islam sangatlah dibutuhkan, sebelum mereka terjun ke medan lembaga dakwah Islam dan kesmasyarakatan.

Penutup

Untuk melakukan social of change lebih efektif ternyata manajemen dalam mengelola dakwah sangat urgen. Proses Manajemen Dakwah boleh dibilang menghadapi tantangan yang tidak mudah dalam pentas mapping dakwah Islam di Indonesia, sebab manajemen dakwah perlu adanya kebersamaan para aktivis dakwah guna mewujudkan berbagai tujuan bersama.

Oleh karena itu profesinalisme menajemen merupakan kunci dari keberhasilan suatu usaha dan di dalam memenangkan suatu persaingan. Termasuk di dalam pengembangan dakwah Islam. Dalam rangka pengembangan manajemen dakwah di Indonesia, khususnya di UIN Syarif Hidayatullah ini, nampaknya perlu ditingkatkan pengkajian dan pengembangan manajemen dakwah baik teorisi maupun praktis. Agar proses manajemen dakwah berjalan sesuai dengan koridornya baik sebagai kajian ilmiah maupun dalam penerapan manajemen dakwah yang diibutuhkan oleh lembaga-lembaga Islam dan masayarakat. Al-hasil, dengan demikian Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan komunikasi ini diharapkan sangat dinantikan oleh stack holder (seluruh umat Islam baik individu maupun lembaga keislaman terutama di Indonesia) dalam pengembangan dakwah Islam yang melakukan upaya pemberian kontribusi pemikiran kepada pengembangan model manajemen dakwah bagi perkembangan dakwah Islam di Indonesia menjadi lebih efektif. Semoga.


Catatan:

[1] Lihat Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, (Jakarta: CV Haji Masagung,1993), cet. ke-9, h. 3

[2] Lihat G.R. Terry, Principle of Management (Home wood illions, sixth edition, Richard Irwin, Inc. 1972) sebagai pembanding lihat Malayu S.P. Hasibuan, ibid, h. 3

[3] Ibrahim Anis et. All, Al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir: Dar’l Ma’arif, 1972 ), Jilid ke-1, cet. ke- 2, h. 286

[4] Lihat Ibn Manzur Jamal Al-Din Muhammad Ibn Mukarram Al-Ansari, Lisan Al-Arab, (Kairo : Dar Al-Mishriyah Li Al-Taklif Wa Al-Tarjamat), Tt. Selanjutnya Disebut Lisan Al-Arab, Jilid. 18, Hal. 281. Lihat Juga Muhammad Fath Al-Bayanuni, Al-Madzkhal Ila Ilmi Dakwah, (Madinah : Muassasah Al-Risalah), 1994, Hal. 200

[5] Toha Yahya Umar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya, 1971), h 1

[6] Imam Muslim, Shahih Bukhari, (Indonesia : Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah), Tt Juz. Ii, Hal. 466

[7] R.H. Akib Suminto, Problematika Dakwah, (Jakarta : Bulan Bintang), 1973, Hal. 41

[8]Lihat MANIS Jurnal Kajian Manajemen dan Lembaga Islam, “Iftitah”, Jakarta, edisi ke-1 2001

[9] Yunan Yusuf, “Manajemen Dakwah Rasulullah Kajian Awal Dari Sudut Pengelolaan SDM”, (Jakarta: Jurnal MANIS, 2001) h. 5

[10] Adi Sasono dkk, Solusi Islam Atas Problematika Umat, (Jakarta: GIP, 1998), h.16-17

[11] M. Habib Chirzin, “Manajemen Modern Dalam Pengembangan Dakwah Islam di Era Informasi”, Makalah pada acara Studium General BEMJ-Manajemen Dakwah tanggal 18 Desember 1998, h. 1

[12] Ismah Salman, Telaah Kritis Dakwah Milenium III, (Jakarta: Abstraksi Pidato Pengukuhan Profesor, tidak diterbitkan, 2003), h. 5-10

[13] Tuti Alawiyah, “Paradigma Baru dakwah Islam: Pemberdayaan Sosio-Kultural Mad’u”, (Jakarta: Jurnal Dakwah, 2001) vol. 3. no. 2, h. 5

[14] Ismah Salman, ibid

[15] M. Yunan Yusuf, “Internalisasi Etika Islam ke Dalam Etika Nasional: agenda Dakwah Dalam Perspektif Pemikiran Islam”, (Jakarta: Jurnal Dakwah) , vol. I. No. 3, h. 9

[16] Ismah Salman, ibid, h. 23

[17] Baihaqi Abd. Madjid dan Syaifuddin A. Rasyid, Paradigma Baru Ekonomi Kerakyatan Sistim Syariah Perjalanan Gagasan dan Gerakan BMT di Indonesia,(Jakarta: PINBUK, 2000), h. v

[18] M. Yunan Yusuf, “Urgensi Dakwah Islam dan Tantangan Alaf Baru”, makalah pada acara Training Muballigh se-Jabotabek BEMF-Dakwah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2000, h. 1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s