Kebersihan Rohani Menimbulkan Mental Sukses

Oleh: Muhammad Zen[*]

Wujud manusia adalah paduan antara jasmani dan ruhani (badan dan jiwa) sebagai model dan modal utama hidup dan kehidupan. Manusia yang utuh adalah manusia yang disebut insan kamil  yaitu yang berfungsi jasmani dan rohaninya serta dapat memahami tujuan hidup dan kehidupan di dunia ini. Mental dan spiritual yang handal dan tegar merupakan  penggerak adanya jiwa yang stabil. Anthony Dio Martin dalam bukunya “Emotional Quality Management” menjelaskan;  “Kunci Mencapai kesuksesan terletak pada kekuatan Emosi/Mental”.

 Itulah sebabnya orang yang memiliki mental yang stabil akan mampu dan mau melihat hidup secara wajar dan realistis (sesuai dengan kemampuan), tidak putus asa/ pesimis, dan tidak mudah patah semangat apabila memperoleh gagal,  karena kegagalan bagi orang yang serius dan dinamis dalam hidupnya merupakan kesuksesan yang tertunda, dan tidak merasa bangga apabila sedang meraih prestasi dan keberhasilan.

Adapun mental yang tidak stabil dikarenakan sebagai akibat  suatu kesalahan atau dalam bahasa agama disebut dosa.  Al Farisi seorang ahli bahasa Al-Qur’an bahwa dosa adalah sesuatu yang menyebabkan terganggunya fisik dan mental bahkan menyebabkan tidak sempurnanya amal perbuatan. Islam mengajak manusia untuk membersihkan rohaninya (jiwa, mental, dan spiritualnya)

Allah berfirman

serta firman-Nya dalam surat Al-Syams ayat 9:قد أفلح من زكاها    ( الشمش : 9 )Artinya; “orang yang mensucikan hatinya akan meraih kesuksesan” ( Al- Syamsy; 9 )

(QS Asy-Syams ayat 7-8)

(QS Ar-Ra’ad: 28)

Berangkat dari pemahaman ini mental dan jiwa yang bersih dan tenang apabila selalu ingat kepada Allah (Zikrullah). Kegoncangan jiwa dan gangguan kejiwaan disebabkan oleh prasangka. Di dalam ayat al-Qur’an dinyatakan

(QS Al-Hujurat:12)

Sehingga Islam menawarkan kepada kita obat al-ternatif atas keresahan jiwa adalah selalu zikir kepada Allah dan banyak membaca Al-Qur’an serta mengkajinya. sehingga mentalitas kita menjadi kuat.

(QS. Al-Isra: 82)

Kesuksesan merupakan hal yang amat didambakan oleh setiap insan. Kesuksesan selalu hadir dalam benak setiap insan; menari lepas dalam tidur yang pulas; menjanjikan hal yang mengasyikan bagi pikiran yang menerawang, serta menggoda perasaan dengan kenyamanan yang menyejukkan untuk menggapai kesuksesan. Namun, sukses juga mengukuhkan diri kita karena sukses harus diraih melalui estapet/cara yang cukup melelahkan, serta dibayar mahal dengan keringat yang mengalir deras dan pikiran yang semakin terkuras. Berbagai daya dan upaya ditempuh untuk menjadi pribadi yang sukses, demi mengapai cita-cita yang didambakan.

Kesuksesan juga tidak mengenal ruang, waktu, ataupun profesi. Ia dapat dicapai oleh pelajar, guru, pengusaha, petani, artis, ataupun penyanyi. Bahkan, seorang “delegasi suci” yang menyandang predikat Rasul pun tidak luput dari objek kesuksesan. Baik itu kesuksesan yang bersifat temporal (selama hidup didunia), ataupun kesuksesan yang bersifat permanen (diakhirat kelak). Seorang pelajar tentu mendambakan kesuksesan dari hasil ujian akhir; atau seorang guru yang dengan setia mendampingi siswanya yang sulit memahami mata pelajaran, agar ia sukses menyampaikan tugas kepahlawanan tanpa tanda jasanya; kisah-kisah pengusaha muslim yang meraih kesuksesan dalam mengelola perusahaannya berawal dari mentalitas.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata sukses mengandung arti hasil yang baik. Dalam bahasa Arab, kata yang mengacu pada makna ini dikenal dengan nama Al-Falhu, dan Al-Fauzu yang semuanya digunakan oleh Allâh  dalam Al-Qur’an sebagai kata dari sukses.

Pencantuman term sukses dalam Al-Qur’an dengan berbagai ragam ini menunjukkan pentingnya kesuksesan bagi diri manusia. Lebih jauh, Al-Qur’an menganjurkan manusia untuk menjadi orang yang sukses, karena kesuksesan merupakan muara bagi setiap insan yang bertakwa. Allâh Swt berfirman:

أولئك على هدى من ربهم و أولئك هم المفلحون     ( البقرة : 5 )Artinya; “mereka (orang-orang bertakwa) mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka dan termasuk orang-orang yang sukses”

Dari ayat tersebut, amat jelas bahwa Allâh Swt memotivasi seluruh hamba-Nya untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki guna menjadi orang yang bertakwa, yaitu pribadi yang mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk memakmurkan dunia dan beribadah kepada Allâh., sehingga dapat meraih petunjuk dari-Nya dan sukses menjalani drama kehidupan dunia dan akhirat.

Menurut syaikh al-mutawally as-sya’rawi, kata “al-falhu” dapat mengandung makna bertani. Dalam konteks ini, allâh swt menggambarkan proses untuk meraih kesuksesan seperti halnya profesi para petani, yang memulai pekerjaan mereka dengan menanam benih, sampai memanen hasil taninya. Artinya, untuk meraih kesuksesan yang didambakan, kita harus melalui estapet yang telah ditentukan, dengan mengerahkan segenap potensi ikhtiar dan tawakkal yang dimiliki. Mulai dari menanam benih kemauan, kerja keras, pantang menyerah, tawakkal, sampai dengan memanen hasil dari segala daya dan upaya kita tersebut. dENGAN  Demikian kesuksesan dapat diraih oleh:1-     Orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang taat kepada Allâh  dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kriteria pertama ini hanya berlaku bagi orang muslim yang taat, yang akan dijanjikan kesuksesan didunia dan akhirat sepanjang ia tidak menyimpang dari ketentuan-Nya. Kriteria eksklusif ini diisyaratkan oleh Allâh  dalam firman-Nya;قد أفلح المؤمنون   ( المؤمنون :  1)Artinya: “Orang-orang beriman tentu akan meraih kesuksesan”2-     Orang-orang yang bersih hatinya. Kriteria kedua ini ditujukan oleh Allâh kepada manusia secara umum, baik muslim ataupun nonmuslim, sepanjang ia senantiasa membersihkan hatinya dari unsur-unsur negatif, serta mengoptimalkan usahanya untuk meraih apa yang ia cita-citakan. Nabi besar Muhammad Saw amat menaruh perhatian pada upaya penjernihan hati, guna meraih kesuksesan yang hakiki. Dalam suatu kesempatan, beliau pernah mengingatkan umat Islam akan esensi hati melalui salah satu sabdanya;;ألا، إن فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب ( متفق عليه )Artinya; “ ketahuilah bahwa didalam tubuh itu terdapat segumpal daging. Apabila daging tersebut baik, maka baik pula seluruh organ tubuh lainnya. namun, bila daging tersebut rusak, maka rusak pula seluruh organ tubuh lainnya. segumpal daging tersebut ialah hati”.3-     Orang yang menyinergikan ikhtiar dengan tawakkal. Sebagai ilustrasi, seorang pelajar tidak mungkin dapat sukses dalam ujian bila ia tidak berusaha mempelajari dan menghafal materi yang akan diujikan. Usaha ini akan dipandang sempurna oleh Allah  bila disinergikan dengan rasa tawakkal, yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah untuk memberikan keputusan yang terbaik bagi kita berdasarkan usaha yang telah kita tempuh. Dalam hal ini orang bijak pernah berkata:الإنسان بالتفكير والله بالتدبيرArtinya: Manusia hanyalah merencanakan dan Allah yang memutuskan.


[*] Khutbah ini disampaikan di Masjid Nurul Iman SMA 97 Brigif II Ciganjur tanggal 13 Mei 2005