Mencari Malaikat Moneter

Oleh : Iman Sugema
Komisi XI DPR akhirnya menolak calon gubernur BI yang diajukan Presiden. Ini merupakan preseden baru karena penolakan seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya terhadap calon anggota dewan gubernur. Implikasinya, Presiden harus mengajukan nama calon baru, baik itu dari dalam maupun luar BI.

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!

Selain itu, Presiden harus secara hati-hati menominasikan seseorang kalau tidak ingin terjadi penolakan kembali. Pertanyaannya, sosok seperti apa yang layak untuk menakhodai BI? Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis di harian ini mengenai kriteria ideal calon gubernur BI. Saya ingin tegaskan kembali bahwa kita memang sewajarnya mencari sosok yang ideal. Kita harus mencari ‘malaikat’ moneter yang bisa menyelamatkan perekonomian Indonesia yang menghadapi tantangan sangat berat.

Berikut adalah alasannya. Saat ini kita menghadapi situasi eksternal yang cukup membahayakan. Perekonomian di negara-negara maju khususnya Amerika Utara dan Uni Eropa terancam oleh stagflasi yaitu stagnansi perekonomian yang dipadukan dengan inflasi. Daya beli sebagian besar penduduk dunia praktis terkikis oleh kenaikan harga berbagai komoditi terutama dari kelompok energi, pangan dan logam.

Negara-negara maju juga menghadapi kerawanan finansial yang sangat pelik. Kredit macet semakin membengkak dan sebagai akibatnya perbankan mengalami kerugian yang bertubi-tubi. Harga-harga aset terutama real estate dan saham mengalami kejatuhan yang pada gilirannya menyebabkan credit worthiness para debitur semakin memburuk. Nilai aset yang menjadi agunan kredit merosot tajam sehingga perbankan dihadapkan pada bahaya moral hazard yang semakin nyata. Sampai titik ini, krisis finansial merupakan ancaman terbesar.

Emerging market di Amerika Latin, Eropa Timur dan sebagian Asia juga menghadapi gejolak di pasar modal dan perbankan. Harga saham yang meroket terlalu tajam akhirnya harus mengalami koreksi yang dalam. Ekspansi kredit yang terlalu jor-joran terutama di Amerika Latin memunculkan bahaya kredit macet. Intinya, krisis finansial secara global baik di negara maju maupun negara berkembang sudah ada di depan mata.

Dengan situasi seperti ini, efek domino kemungkinan akan terjadi jauh lebih dahsyat dibanding krisis finansial di Asia sepuluh tahun yang lalu. Setidaknya krisis kemungkinan akan menjalar di tiga benua yakni Amerika, Asia dan Eropa. Kalau hal tersebut betul-betul terjadi maka umat manusia menghadapi katastropi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kebangkrutan negara dan meluasnya kemiskinan serta pengangguran akan menjadi pemandangan yang umum.

Tentu kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi, dan karena itu kita harus melakukan berbagai langkah antisipatif. Kesalahan yang dilakukan sepuluh tahun yang lalu jangan terulang lagi. Pengambilalihan kedaulatan moneter ke tangan IMF telah terbukti membawa katastropi kemanusian yang sampai saat ini masih kita rasakan.

Negara-negara maju yang sekarang menghadapi krisis finansial justru melakukan hal yang sebaliknya dari yang pernah diterapkan IMF pada kita. IMF menyarankan pengetatan fiskal dan moneter yang menyebabkan krisis menjadi semakin dalam. Saat ini, AS dan negara maju lainnya justru melakukan pengenduran moneter.

Dari hal ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa adalah sangat penting mengangkat seorang Gubernur BI yang andal di bidang moneter sehingga ketika ada masalah berat yang muncul tidak serta merta meminta bantuan IMF. Karena itu pula kita tidak menghendaki pejabat publik yang memilki pemikiran yang segaris dengan IMF. Ini bukan perkara nasionalieme, tetapi lebih menyangkut bagaimana kita menghadapi situasi terburuk.

Selain itu, saat ini perekonomian nasional menghadapi tekanan fiskal yang luar biasa. Kalau harga minyak sepanjang tahun ini terus menerus berada di atas 100 dolar AS per barrel, maka jumlah subsidi BBM dan listrik diperkirakan akan menembus angka Rp 300 triliun. Dalam situasi seperti ini, kekuatan fiskal sebagai instrumen stabilisasi ekonomi makro praktis akan mengalami kelumpuhan.

Sampai saat ini tim ekonomi praktis belum menemukan formula kebijakan yang bisa dengan ampuh mengatasi hal ini. Bahkan, dengan harga minyak yang sekarang berada di atas 110 dolar AS, asumsi di dalam APBN-P masih saja ditetapkan sebesar 85 dolar AS. Sebuah kesalahan fatal yang sebenarnya tak perlu terjadi kalau kita berpikir secara konvensional. Celakanya, memang pemikiran ekonomi kita terlalu didominasi dengan paradigma konvensional yang sangat ortodoks.

Dengan lumpuhnya fungsi anggaran, satu-satunya harapan bagi stabilisasi ekonomi makro adalah melalui kebijakan moneter. Tetapi pilihan kebijakan moneter-pun menjadi sangat terbatas jika kita masih bertumpu pada instrumen moneter yang sangat konvensional. Kebijakan moneter yang konvensional saat ini terlalu bertumpu pada kebijakan suku bunga melalui BI rate. Kebijakan suku bunga menjadi tidak efektif karena menghasilkan dilema yang sulit dihindari. Kalau kita ingin menekan inflasi, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terpaksa harus dikorbankan. Begitu juga sebaliknya. Sebuah pilihan pelik bukan?

Dengan lumpuhnya fiskal dan sulitnya merumuskan pilihan kebijakan moneter, adalah wajar kalau kita mengharapkan bisa memilih seorang gubernur BI yang piawai. Kalau perlu ia adalah seorang ‘malaikat’ moneter. Yang jelas, dia bukan seorang yang memiliki paradigma ekonomi konvensional yang ortodoks. Mari kita cari siapa orangnya.

Sumber: http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=327124&kat_id=15

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s