abtu, 12 April 2008  13:16:00

Berdamai dengan Diri Sendiri

Sepanjang satu setengah jam kelas hot yoga, tidak boleh ada suara-suara yang terlontar. Yang terdengar hanyalah suara yang dikeluarkan sang instruktur, Mony Suriany. Lantas, apa yang ada dalam pikiran murid Mony selama kelas yoga? ”Nothing,” kata Kim Young Ju, seorang warga Korea yang sudah tiga tahun menjadi murid Mony menjawab pertanyaan Republika. ”Bagaimana bisa kita berpikir?

” tanyanya balik. Gerakan bikram yoga bukan pose mudah yang bisa dilakukan tanpa konsentrasi. Setiap rutinitas di ruang panas tersebut merupakan tantangan bagi tubuh perempuan berusia 36 tahun itu. Tak cuma mengangkat kakinya ke udara kemudian mendorong tangan ke arah yang berlainan dengan kakinya, ada pula gerakan mengangkat satu kaki tanpa topangan tangan. Alhasil, pikiran Young Ju hanya terfokus pada menyeimbangkan tubuhnya demi mencapai seluruh postur dalam bikram yoga.

Pikiran tentang beban pekerjaan atau masalah rumah tangga ditanggalkan. Otaknya hanya berpikir tentang panas dan gerakan-gerakan itu. Katanya, ”Saya harus melawan panas dan postur itu.” Seperti ketika dia harus ‘melawan’ suasana Jakarta yang berbeda dengan kondisi negerinya, Korea. Bagi Young Ju, tidak mudah untuk beradaptasi dengan Jakarta. Indonesia sangat bertolak belakang dengan Korea. Di sini, dia tak punya teman untuk berbicara. Belum lagi repot mengurus anak dan bayi di negeri orang. Young Ju juga bukan tipe orang yang mudah merasa rileks.

Di negara asalnya saja, ia tidak pernah makan di luar rumah. Bukan karena tidak suka, tapi ia khawatir makanan itu tidak bersih. Terlebih di Indonesia. Young Ju bahkan tidak berani menenggak air mineral dalam kemasan produksi Indonesia. Rasa khawatir yang berlebihan membuat susut berat tubuhnya.

Di sisi lain, sebagai perempuan Korea, pikiran Young Ju sangat kuat. Ia menggolongkan dirinya sebagai manusia dengan determinasi yang besar. Perpaduan antara tubuh yang lemah dan pikiran kuat ‘melumpuhkan’ Young Ju. ”Hasilnya adalah Young Ju yang lemah,” ucapnya. Hot yoga membantu Young Ju menyeimbangkan pikiran dan fisiknya. Young Ju sempat melakoninya dengan mengikuti kelas Mony selama 100 hari tanpa putus. ”Kini saya jadi lebih sabar,” ujar perempuan yang sudah lima tahun menetap di Jakarta.

Makan di luar rumah pun tak lagi menakutkan. Pagi itu Young Ju berbincang dengan Republika sembari menyeruput air mineral dalam botol plastik yang dijual di studio Mony. Ada kedamaian yang menyelimuti Young Ju setelah ia berjuang dalam panas. Terkadang setelah kelas yoga berakhir Young Ju justru larut dalam tangis. Rasa rileks membuat air matanya meleleh. Bukan karena ia harus berpisah dengan panas yang menenangkan jiwanya, tapi karena masa dengan dirinya sendiri berakhir. Memang hanya itu yang dipikir Young Ju setiap kali memulai gerakan hot yoga. Kenikmatan 90 menit bebas dari pikiran lain yang memusingkan. ind

Sumber: http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=460

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s