SIMBOL BERLEBARAN

Oleh: Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA

(Tulisan ini dimuat Buletin Al-Hidayah, Edisi 2, Januari 2003 M/ DzulQo`dah 1423 H)  

Minal ‘âidîn wa al fâidzîn taqbbalallâhu minnâ wa minkum merupakan ungkapan yang  kerapkali dipergunakan oleh umat Islam di belahan dunia ini sebagai tanda ucap kegembiraan dan do’a atas kembali seorang mu’min kepada fitrahnya, setelah berpuasa–selama sebulan penuh–di bulan Ramadhan. Hari kemenangan (berlebaran) atau yang lebih dikenal sebagai  hari raya Idul Fitri, bagi kaum muslimin merupakan saat-saat yang indah dan waktu yang sangat dinanti-nantikan, waktu yang dipergunakan semaksimal mungkin untuk berekreasi menghilangkan kepenatan bersama keluarga –yang biasanya pada bulan lainnya dipakai untuk melaksanakan rutinitas pekerjaan–, bertemu bersilaturrahim dengan sanak famili, handai taulan dan tetangga untuk mem-pererat persaudaraan berjabat tangan dan saling bermaaf-maafan. 

Tak luput pula tentunya, sebagai ucap syukur nikmat umat Islam saat merayakan hari kemenangan ada yang menyediakan hidangan meriah. Suguhan beraneka ragam makanan dengan mudah kita jumpai di setiap rumah-rumah. Hal ini tak lain dipersiapkan untuk kalangan keluarga sendiri, di samping handai taulan, tetangga dan para tamu dalam upaya memeriahkan suasana berlebaran.Saat kita berbicara idul fitri, tidaklah bisa untuk melapaskan bulan Ramadhan yang telah kita tinggalkan, berbagai aktifitas dan rutinitas kebera-gaman tampak semarak dilakukan umat Islam di berbagai masjid, musholla/ langgar dan lainnya. Bulan Ramadhan memang sarat memuat berbagai simbol-simbol ketaqwaan  seorang hamba kepada sang Pencipta. Di samping, memuat sisi-sisi nilai kemanusiaan (berzakat), kebersamaan (persatuan dan kesatuan) dan sebagainya. Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan. Namun apakah lantas semenjak kita tinggalkan bulan ramadhan tersebut ibadah dalam artian luas yang kerap kali dilakukan menghilang begitu saja?

Tentunya tidak,  segala kebaikan hendaknya senantiasa dipertahankan bahkan semaksimal mungkin untuk ditingkatkan pada bulan selanjutnya. Dengan semangat motto hidup baru dalam jiwa kita, “hari ini dan hari selanjutnya harus lebih baik dari hari sebelumnya”. Hal tersebut dimaksudkan, sebagai  upaya bagaimana ketaatan kita sebagai hamba kian meningkat diiringi dengan nilai-nilai keikhlasan dalam menjalankan syariat Islam. Al-hasil, segala hal yang dilakukan tersebut tak lain dan tak bukan sebagai bekal hidup kita nanti di hari kemudian. Sebagaimana Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah  dan  hendaklah  setiap  diri memperhatikan apa yang Baju BaruDalam momentum yang baik ini, saat kita saling bermaaf-maafan dan bersilaturrahim. Beratribut serba baru yang kita sandangkan; baju baru, sepatu baru, celana baru, dan semuanya serba baru. Ada pertanyaan kemudian yang muncul yaitu  bolehkah kita berbaju baru? Bagaimana lebaran Rasul apakah juga dengan simbol-simbol yang baru itu? Dalam konteks syrah Nabi Saw., pernah suatu ketika sahabat Umar bin al-Khattab membeli baju baru kemudian diberikan kepada Nabi Saw. “Wahai Rasulullah, baju ini saya beli di pasar agar Anda pakai untuk berhari raya dan ketika Anda menerima tamu-tamu,” begitu kata Umar kepada Nabi. Tetapi saat itu Nabi tidak mau memakai baju yang dibelikan Umar tadi. (HR. Bukhori) Dalam keterangan lain juga disebutkan  yaitu dalam kitab Al-Mughni karangan Ibn Qudamah al-Maqdisi menjelaskan, “Sahabat Abdullah bin ‘Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw mandi pada hari lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah itu Nabi saw juga tampaknya memakai pakaian yang baru, begitu pula para sahabat”.

Jadi, tampaknya berhias dengan memakai baju baru dan wangi-wangian sudah menjadi kebiasaan pada masa Nabi. Bahkan Nabi sendiri yang menganjurkan untuk memakai wangi-wangian. Dan hal ini menjadi suatu hal yang wajar, mengingat shalat hari raya itu berarti akan bercampur dengan orang banyak, sehingga seyogyanya kita tidak membawa bau-bau yang tidak sedap. Sunnah Nabi Saw ini kemudian mengental menjadi tradisi di kalangan umat Islam seluruh dunia di mana pada hari raya mereka berpakaian serba baru dan memakai minyak wangi.

Sampai-sampai ada anggapan apabila pada hari raya tidak berpakaian baru, maka seolah-olah ia tidak berlebaran. Dan tentu saja hal ini tetap dibolehkan selama tidak dicampuri dengan hal-hal yang bersifat maksiat dan munkarat. Lebih tegasnya, Lagi-lagi simbol berbaju baru ini tidaklah menjadikan paksaan dalam beragama tentunya bagi mereka yang memiliki dan menginginkannya sesuai dengan kapasitas kemampuan individu.

Namun demikian, ada hal yang sangat menarik dari simbol ini (berbaju baru) yaitu kesucian. Sebagaimana diharapkan sejalan dengan inti makna dari Idul fitri. Dr. Ibrahim Unais dalam Mu’jam Al-Wasîth memaknai Idul artinya kembali, sedangkan fitri artinya suci. Jadi Idul Fitri bahwa kita kembali kepada watak dasar (fitrah/ suci) manusia yang ada sejak lahir. Nilai kesucian yang ada, hendaknya dijaga bahkan  semaksimal mungkin ditingkatkan kadar kesuciannya, sebagai mana simbol berbaju baru yang mesti kita jaga dari berbagai kotoran dan noda. Idul fitri diharapkan sebagai tombak menambah ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Di situlah letak hakikat makna Idul fitri. Janganlah Idul fitri dipahami dengan berbaju  baru saja namun melupakan bah-wa  jiwanya  pun baru  yang mesti  dijaga dari  nilai kesucian. Bahkan sebagian ulama ada yang mewanti-wanti untuk tidak mementingkan terhadap simbol-simbol dalam berlebaran, melainkan intinya yaitu keimanan hamba kian bertam bah. Sesuai dengan maqalah, Id (Idul Fitri) tidak hanya berbaju baru, akan tetapi disebut Id yaitu keimanan  (kita kepada Allah) bertambah”. 

 Oleh karena itu, dengan semangat jiwa yang baru ini atau beridul fitri hendaknya kita pacu mengukir prestasi ibadah kepada Allah SWT. Dalam upaya menambah keimanan kita kepada-Nya di mana saja berada dengan berakhlâk al-karîmah. Ingatlah saudaraku janganlah kita berbangga dan terlena dengan kemegahan dan kemolekan gemerlapnya dunia yang ternyata sebenarnya hanya semu, tempat singgah belaka tidak lebih. Akhiratlah tempat tujuan kita tinggal di sana. Insya Allah bekal amalan yang dipersiapkan di dunia ini akan dijadikan sebagai investasi  kita di akhirat nanti. Wallâhu ‘alam   

Iklan